Dari
seminar ini lah ceritaku dimulai. Ketika itu aku mengahdiri seminar
didaerah jogja karta tepatnya didaerah sekitar gunung merapi selama
seminggu. Di hotel yang sudah ditentukan panitia aku melihat banyak
muda-mudi juga yang mengikuti seminar dari bebrapa perusahaan lain. Aku
melihat hanya ada bebrapa saja yang seumuran denganku, yang lainnya aku
lihat umurnya masih dangat muda-mda sekali sekitar 25-30 tahunan.
Disitulah aku merasa senang, karena aku bisa melihat pemandangan
gadis-gadis muda yang berpakaian super seksi dengan berbalutan rok mini,
sehingga paha putih mulus gadis-gsdis itu bisa terlihat dengan jelas.
Cerita Sex
Namun diantara gadis-gadis cantik yang ada
diseminar itu, aku melirik satu gadis yang sosoknya sangat menarik
perhatianku. Umurnya masis muda sekitar 27 tahunan, berwajah imut,
berambut hitam panjang, hidungnya mancung, bibirnya tipis sekali dan
juga tubuhnya yang sangat menggoda kaum lelaki. Payudaranya terlihat
menonjol diluar kemeja putih setrit yang dikenakannya dan juga pantatnya
yang bulat terlihat begitu ranum dibalik rok hitam mini yang
dikenakannya. Sungguh aku sangat terpesona dengan gadis muda itu. Cerita
Mesum
Ketika acara istirahat siang mereka sudah pada
ngobrol satu sama lain, saling curhat, saling mencari “jodoh”
masing-masing. Dan pada malam kedua itu kelihatannya mereka sudah saling
akrab bahkan hampir dari semua peserta pada malam itu sesudah pelajaran
selesai kira-kira pukul 21. 30 WIB mereka memutuskan untuk jalan-jalan
keliling sekitar penginapan sampai ke Gardu padang untuk melihat
pemandangan alam di sekitar Gunung Merapi malam hari. Dan sungguh
menakjubkan, pada malam terang bulan itu Merapi terlihat indah, gagah,
namun menyimpan rahasia alam yang tak dapat diraba oleh panca indera.
Dalam perjalanan malam itulah saya mulai menemukan “jodoh” untuk diajak
bincang-bincang secara dengan dekat atau curhat bahasa populernya.
Cerita Sex Terbaru
Sebut saja teman saya tadi Dilla.
Masih muda sekitar 27 tahun, belum kawin katanya, namun sudah punya
pacar. “Pacarku itu lho Om (begitu dia panggil saya) yang antar aku ke
sini tempo hari”. “Oh, yang antar kamu tempo hari to Wuk” sahutku.
Hari-hari selanjutnya semakin akrab aku memanggil dia dengan panggilan
Wuk, dan dia memanggilku dengan Om. “Kok, panggil aku Om, gimana sih?”
godaku. “Gini Om, soalnya dari perkenalan kemarin, Om umurnya sudah
sebaya dengan umur Pak Lik atau Paman saya, jadi ya kupanggil saja Om.
Nggak apa-apa kan?” sahutnya. “Oh, begitu to, oke deh” sahutku pula.
Pada Ju’mat pertama, saya coba ajak Dilla untuk jalan-jalan setelah
akhir pelajaran. Cerita Ngentot
Waktu itu jarum jam
menunjukkan pukul 22. 00 WIB. “Wuk, belum ngantukkan?” tanyaku. “Belum
Om, ada apa?” Dilla balas bertanya. “Yuk, kita jalan-jalan ke gardu
pandang!” ajakku. “Siapa aja yang akan kesana Om?” tanyaknya lagi. “Aku
nggak tahu, aku hanya ajak kamu jalan-jalan malam ini, kan besok malam
Minggu diberi kesempatan pulang ke rumah masing-masing, jadi ini
kesempatan malam terakhir minggu pertama untuk jalan-jalan. Kalau yang
lain ada yang ikut aku nggak keberatan, kalau tak ada yang ikut pokoknya
aku ajak kamu aja, mau kan?” aku coba merayu. “Gimana ya Om?” dia agak
ragu menjawab. “Aku sih sebenarnya juga ingin jalan-jalan, tapi kalau
hanya kita berdua gimana, ya, aku tak enak sama teman-teman yang lain”,
lanjutnya. “Ya nggak usah dipikirkan, tuh mereka sudah membuat
kelompok-kelompok sendiri!” sahutku pula. Cerita Sex ABG
Dilla
diam sebentar dan akhirnya memutuskan mau kuajak jalan-jalan malam itu,
hanya berduaan saja. Sepanjang jalan aku dan Dilla ngobrol tentang
keadaan kantor masing-masing, tentang keadaan alam, tentang keluarga,
dan ngomong apa saja untuk menghilangkan kejenuhan selama perjalanan ke
gardu pandang. Setelah jalan beberapa ratus meter melewati tanjakan dan
tikungan tiba-tiba melewati tikungan yang cukup gelap karena lampu
penerangan jalan yang mati. Dilla berhenti sebentar dan berkata” Om,
gelap tuh jalan, gimana yuk balik aja”. “Balik, tanggunglah yau, kan
gardu pandang tinggal beberapa puluh meter di depan, setelah tikungan
itu kan?” sahutku. “Iya tapi kan cukup gelap, aku agak takut” sahutnya
pula. “Nggak apa-apa, ada aku kok (gayaku sok berani), yuk terus!”
sahutku sambil secara reflek menarik tangannya dan kugandeng terus
melewati kegelapan. Dilla, terus mengikuti, malah memegangku semakin
erat dan semakin dekat jaraknya tubuhnya dengan tubuhku. Cerita Sex
DaunMuda
Tercium, bau parfum yang wangi dari tubuhnya.
Hal ini semakin ingin aku menggandengnya lebih lama. Akhirnya aku dan
Dilla melewati jalan gelap sambil bergandeng tangan terus sampat tempat
gardu pandang. Disana sudah ada beberapa pasangan muda-mudi yang juda
duduk-duduk sambil memandang keindahan Gunung Merapi. “Om, lepasin dong
tangannya” pintanya. “Oh maaf, ya Wuk, aku sampai lupa, habis hangat
sih” godaku. “Om, nakal, besuk kuberitahu lho istri om, biar dimarahi”
sahutnya. “Eh, ngancam, ya? Besuk juga kuberi tahu pacarmu, hayo”
balasku pula. Dilla mencubit tanganku, namun secara cepat kupegang
tangannya erat-erat dan kutarik tubuhnya mendekati tubuhku, kutarik lagi
hingga tubuh kami berdua berdekatan. “Ssst.. nggak usah ribut, nanti
pada menengok dan melihat ke sini semua” bisikku di telinganya. Mata
kami saling memandang, dan Dilla pun tersenyum. Cerita Sex Selingkuh
“Oke,
Om, nggak usah lapor-laporan, ya” ucapnya pelan, kemudian aku pun
membalas senyumnya. “Iya deh, Oreo, setujukan?” Akhirnya malam itu kami
duduk-duduk untuk beberapa lama, ngobrol, sambil menikmati pemandangan
dari gardu pandang, yang pada waktu itu Merapi telah diselimuti kabut
cukup tebal. Jarum jam telah menunjukkan jam 1 malam waktu setempat,
hawa di pegunungan itu semakin terasa dingin, satu persatu, sepasang
demi sepasang, mereka mulai meninggalkan gardu pandang. Aku pun mengajak
turun Dilla menuju tempat penginapan kami. “Om, dingin sekali ya, Om
dingin nggak? tanyanya. “Ya dingin sahutku pula, gimana to? tanyaku
pula. “Nggak apa-apa kok, yok kita turun” lanjutnya. Cerita Sex HOT
Tanpa
berkata ba, bi, bu, ku gandeng tangan Dilla, dia tak menolak, aku
semakin berani untuk segera merangkulnya. “Gimana Wuk? hangat kan?
tanyaku. “Om, nakal, besuk aku bilangan, sama istri Om” sahutnya. “Eit,
kita kan udah janji, Oreo-kan” kataku pula. Akhirnya Wiwk diam saja
kurangkul dan kudekap sepanjang perjalanan menuju penginapan, mungkin
merasa hangat dan lebih tenang seperti yang kurasakan. “Lepasin Om
tangannya” katanya setelah terlihat penginapan yang tinggal beberapa
puluh meter. Kulepaskan tanganku dan aku sengaja menyenggol bukitnya
yang ternyata cukup besar. Cerita Sex Bispak
Dilla
hanya diam saja. “Dah.. Dilla..” kataku ketika kami berpisah dan menuju
kamar masing-masing. “Dah.. Om, nakal” sahutnya sambil tersenyum. Sabtu
sore itu kami diberi kesempatan untuk pulang mengengok keluarga
masing-masing. Aku pulang sendiri, Dilla dijemput oleh pacarnya, yang
ternyata juga tidak begitu ganteng. “Selamat jalan, ya, hati-hati”
kataku sambil mengulurkan tanganku untuk bersalaman. Dilla pun menjawab
“Terimakasih, Om, ini kenalkan, pacarku”. Aku pun terus bersalaman dan
berkenalan dengan pacarnya. “Feri” katanya singkat. “Maman” jawabku
singkat pula. “Senang ya punya pacar cantik, kok diajak pulang sore ini,
mengapa tak nginap di sini aja berdua, sekaligus bermalam minggu di
sini. Kalau mau nanti aku mintakan izin sama panitianya. Aku kenal kok
sama ketua panitia kegiatan ini” godaku pula.
Mereka
berdua saling berpandangan dan tersenyum malu. “Nggak usah lah yau,
nanti ndak lupa daratan” sahut mereka berdua hapir bersamaan. “Oke,
kalau gitu selamat jalan, dan sampai jumpa” aku berkata demikian sambil
melambaikan tangan. Mereka berdua pun melambaikan tangan, menghidupkan
mesin motornya dan melesat turun ke kota. Ketika aku masih bengong
melihat Dilla dengan pacarnya sudah melesat pergi, tiba-tiba dari
belakang di tepuk pundakku oleh Pak Bandung, salah seorang panitia yang
telah kukenal sebelumnya. “Hayo! Dik Maman jangan bengong aja, dulu
waktu muda kan pernah kayak gitu, ingat lho Dik Maman, anak dan istri
telah menunggu dirumah untuk berakhir pekan” katanya.
Aku
pun terkejut, “Oh, nggak apa-apa kok Pak, saya cuma setengahnya tidak
percaya, itu lho gadis cantik kayak gito kok pacarnya biasa saja, nggak
ganteng, kalau dipikir-pikir justru lebih ganteng saya to Pak” jawabku
pula. Dan sambil menghidupkan mesin aku langsung tancap gas turun
gunung, mampir sebentar di warung pinggir jalan, membeli juadah tempe
serta wajik untuk oleh-oleh anak istri yang telah menunggu di pondok
mertua indah.
Senin pagi itu para peserta kursus telah
berdatangan lagi untuk melanjutkan menimba ilmu kearsipan. Kulihat Dilla
juga telah datang dan tengah menikmati sarapan pagi yang memang telah
disediakan oleh pihak panitia. Aku mendekat dan menyapa”Pagi Wuk, gimana
kabarnya, gimana malam minggunya, asyikkan, saya tahu lho Wuk malam itu
kamu tidak pulang ke rumah tapi entah bermalam dimana” kataku mencoba
menebak-nebak sambil duduk didekat Dilla yang lagi sarapan pagi. “Ah, Om
ini sok tahu, kalau ya terus mau apa, kalau tidak trus gimana” jawabnya
agak ketus. “Ya, nggak apa-apa, wong aku cuma bercanda, kok” aku balas
menjawab. “Gimana Wuk, nanti habis pelajaran malam kita jalan-jalan
lagi, ya. Nanti jalan-jalan dengan route yang lain dengan kemarin, oke?”
aku mengajak Dilla.
Dilla pun mengangguk tanda setuju.
Malam itu setelah pelajaran malam berakhir pukul 21. 30 kami berdua
jalan-jalan mengelilingi taman parkir, gardu pandang, telogo nirmolo,
dan akhir berhenti duduk-duduk karang Pramuka. Saat itu Dilla memakai
jaket tebal dan celana jeans ketat. Dalam keremangan malam terlihat
bentuk kakinya yang indah sesuai dengan tinggi badannya. “Dingin Wuk?”
tanyaku membuka percakapan. “Ya dingin, mana ada tempat di Kaliurang
yang hangat” jawabnya. “Ada saja” jawabku “Dimana” tanyanya lagi “Ya,
disini” jawabku sambil aku menggeser pantatku dan duduk berdekatan
dengannya. “Dimana Om?” Dilla pun bertanya lagi “Ya.. disini, coba
pejamkan mata sebentar!” perintahku.
Dilla pun
memejamkan mata. Pelan tapi pasti Dilla pun segera kupeluk dengan lembut
dan ternyata hanya diam saja. “Dimana Om,? dia bertanya lagi “Disini”
jawabku sambil terus mempererat pelukanku kepadanya. “Om, nakal” Dilla
meronta tapi aku tetap meneruskan pelukanku bahkan semakin erat dan
akhirnya perlahan-lahan dia menikmati juga kehangatan pelukanku bahkan
membalas dengan pelukan yang tak kalah erat. Peluk dan terus peluk,
kehangatan pun terus mengalir dan kuberanikan diri untuk mencium
pipinya, mencium bibirnyanya. Dia ternyata menerima dan membalas
ciumanku dengan hangat. “Oh.. Om..” desahnya pelan “Oh.. Wuk, cantik
sekali kau malam ini” rayuku pula.
Tanganku selanjutnya
menelusuri tubuh dibalik jaketnya yang tebal. Aku sedikit kaget karena
Dilla hanya memakai kaos “adik” singlet yang agak tebal. “Nggak usah
terkejut Om, aku sering melakukan ini dengan pacarku” bisiknya. “Lho,
katamu dingin, kok pakai singlet?” aku balas bertanya. “Iya, tadi
dingin, tapi sekarang sudah agak hangat, kan ada pemanasnya” celotehnya
pula. “oo begitu, baru hangatkan? Oke kalau begitu nanti kubuat kamu
lebih hangat lagi, kalau perlu sampai panas” lanjutku sambil terus
mengelus, meraba tubuhnya. Dan akhirnya sampai dibukit yang cukup besar
dan kiranya mulai menegang. Tanganku berhenti sebentar dibukitnya yang
kenyal, kemudian mulai kuremas-remas dengan kedua tanganku dari arah
belakang. Dilla mulai melenguh kenakan.
“Oh.. Om,
terus-terusin Om.., Om.. teruus” Dilla terus merengek. Kemudian dia
berbalik dan tangannya juga mulai mememeluk tubuhku semakin erat.
Tangannya menuntun tanganku dari bawah kaosnya menuju bukitnya dan
ternyata juga tidak memakai BH. Kuremas pelan-pelan dan semakin cepat
seiring dengan rengekannya. Kami berdua saling berpelukan, saling
berciuman, melumat bibir, saling meremas, entah berapa lama. Kami
semakin tidak sadar kalau berada diruang terbuka. Disekeliling kami
hanya pepohonan hutan cemara dikeremangan malam, diiringi suara
cengkerik, belalang serta binatang malam lainnya, dipinggir tanah lapang
itu. Kami pun tidak akan tahu seandainya disekeliling lokasi itu ada
yang melihat baik sengaja mengintip atau tidak sengaja melewati daerah
itu. Permainan terus berlanjut diudara terbuka itu. Dilla pun segera
mengarahkan tangannya ke daerah selangkanganku, mengelus dari luar
celanaku.
Baca Juga :
Gangbang Gadis Perawan