Cerita Dewasa | Merasakan Tubuh Tante Cantik Bergetar
- Ketika saya masih berusia 15 tahun dan baru masuk ke SMA kelas 1 di
kota Bogor. Ayahku adalah seorang perwira menengah AD yang sedang sering
berpindah- pindah kota sesuai dengan penugasannya. Saat itu ayahku
dipindah tugas ke Maluku, aku dan kakak perempuanku tidak bisa ikut
pindah, karena saya masih baru masuk SMA dan kakak perempuanku di kelas
akhir SMA. Jadi, aku dan kakakku tetap tinggal di kota Bogor sambil
ditemani seekor anjing dan seorang pembantu setia keluargaku, Bi Tuti
seorang janda berumur sekitar 28 tahun, yang berkulit bersih agak
kecoklatan dan bertubuh montok dengan ukuran buah dada sangat besar.
Karena ayahku telah pindah ke Maluku, kami terpaksa pindah dari rumah
dinas ke rumah yang sengaja dibeli untuk kami berdua.
Rumahnya
cukup besar dengan halaman di bagian belakang, kamarnya lima, tiga
kamar berukuran besar, dan dua kamar yang lain berukuran sedang. Aku
menempati kamar di bagian belakang,sedangkan kakak perempuankku di kamar
tengah,dan kamar Bi Tuti berseberangan dengan kamarku,dekat kamar
mandi. Bi Tuti berasal dari daerah Bandung Selatan. Ia sudah ikut
keluargaku sejak berusia 17 tahun dan sempat berpisah selama setahun
ketika kawin dengan seorang sopir bus antar kota tapi perkawinannya
hanya berumur enam bulan karena bis yang di sopirnya tabrakan sehingga
suaminya tewas.
Karena
merasa kasihan, Ibu menawarkannya untuk kembali menjadi membantu
keluarga kami seperti sebelumnya. Rupanya Bi Tuti menyambut tawaran itu
karena dia sudah menjadi seorang janda. jadilah ia pembantu setia
keluarga kami. Ketika aku lahir, Bi Tuti adalah orang yang menjadi
pengasuhku. Artinya, kalau aku ngompol, dia yang mengganti celanaku,
kalau aku mandi dia yang memandikan aku, sehingga Bi Tuti betul-betul
orang yang sangat dekat denganku. Semenjak umur lima tahun sampai
sebelas tahun, aku sering mandi bersama dengan Bi Tuti. Seringkali Bi
Tuti menyuruhku menggosok-gosok punggungnya, dengan berjongkok di
depanku sambil meremas- remas buah dadanya dengan kedua tangannya.
Kadang
kala Bi Tuti mendesah dan badannya bergetar seperti kedinginan, “Kenapa
bi?” tanyaku. “Nggak apa-apa Den, cuma ini bibi gatal” jawabnya sambil
menunjuk buah dadanya. Ketika itu, aku belum ngerti apa-apa . Tapi
ketika aku sudah umur dua belas tahun, aku tidak pernah diajak mandi
bersama lagi sama Bi Tuti. Namun aku masih ingat dengan jelas kejadian
dulu dan lekuk-lekuk tubuhnya serta bau badannya yang khas itu. Ingatan
ini yang sering menggodaku untuk melamun di malam hari, sambil
membayangkan tubuh telanjang Bi Tuti ada di depanku dengan buah dadanya
yang besar dan memeknya yang ditutupi bulu tebal. Setiap melihat Bi
Tuti, langsung kontolku tegang. Tapi keinginan itu tetap kutekan
bertahun tahun, sampai akhirnya terjadilah peristiwa yang sampai saat
ini tetap tetap kuingat, yakni kenangan pertama menyetubuhi seorang
wanita.
Ceritanya
begini. Sejak SMP aku mulai terangsang setiap kali melihat Bi Tuti
mengepel lantai, yang biasa dilakukannya dengan menungging. Biasanya
tiap pagi aku bersiap mengerjakan PR di meja makan atau meja ruang tamu
sambil menunggu Bi Tuti lewat untuk melihat bagian atas dari buah dada
Bi Tuti yang berayun-ayun dan pantatnya bergoyang saat dia menggerakkan
kain pel kekanan dan ke kiri. Selain itu aku memandangi pahanya yang
kadang terlihat kalau kain Bi Tuti tersingkap dengan tak sengaja saat
dia sedang mengepel. Gumpalan buah dada Bi Tuti itu sering membuatku
terhanyut untuk mencoba memegangnya.
Sungguh,
saat itu aku ingin mengelus-elus, meremas-remas dan menciumi puting
buah dada itu. Tapi, perasaan itu saya tekan karena aku masih kecil dan
tidak berani untuk melakukan itu pada Bi Tuti. Tapi semakin lama kutahan
keinginan itu semakin ring dan kuat perasaan itu muncul. Dan akhirnya
aku mulai mendapat akal bagaimana caranya supaya Bi Tuti tidak sadar
kalau aku mengerayangi tubuhnya. Ide itu kudapat setelah ada seorang
teman sekelasku yang tertidur sangat nyenyak di kelas, seperti pingsan
hingga tak seorangpun bias membangunkannya, hanya karena dia memakan
setengah butir obat kepunyaan ayahnya yang berprofesi dokter bedah.
Bagaimana kalau Bi Tuti kuberi obat tidur, lalu setelah tidur nyenyak
kusetubuhi?
Dengan
pikiran ini, aku main kerumahnya lalu kuminta sepuluh butir pil tidur
pada temanku itu. Malamnya, seperti biasa aku nonton TV bersama kakak
perempuanku dan Bi Tuti juga nonton, Biasanya, sebelum tidur Bi Tuti
selalu minum segelas air teh manis yang sudah ada di kamarnya. Dengan
pengetahuan ini, malam itu ketika kami lagi asyik nonton sinetron, aku
pergi kekamarku lalu pura-pura ke kamar mandi, padahal aku pergi ke
kamar Bi Tuti untuk memasukkan dua butir pil tidur, yang sudah kubikin
jadi serbuk ke gelas Bi Tuti sambil kutambahkan gula putih supaya tehnya
tetap manis. Setelah acara sinetron selesai, dan dunia dalam berita
akan mulai, Bi Tuti beranjak dari ruang TV, beres-beres sebentar lalu
kekamarnya untuk meminum air teh manisnya setelah itu dia ke kamar mandi
untuk kencing dan gosok gigi.
Tapi
sewaktu dia di kamar mandi, aku menyelinap masuk ke kamar tidurnya. Aku
sudah hafal posisi kamar tidur itu sebab aku sering masuk secara
diam-diam untuk mencari tempat dimana aku harus sembunyi. Tempat yang
paling aman untuk sembunyi adalah di bawah tempat tidur Bi Tuti. Maka
akupun menyelinap masuk ke kolong dan menunggu Bi Tuti masuk ke kamar.
Sementara itu, kontolku sudah tegang karena sudah, terbayang apa yang
akan terjadi. Langkah kaki Bi Tuti akhirnya semakin dekat dan klek..
klek.. crek.., pintu dibuka lalu ditutup lagi dan di kunci. Lalu kulihat
kaki Bi Tuti berada di samping tempat tidur dan aku tahu dia sedang
membuka baju dan kainnya.
Aku
semakin tegang dan nafasku mulai agak memburu membayangkan tubuh Bi
Tuti hanya ditutupi BH dan celana dalam saja.. ingin rasanya aku cepat
keluar. Beberapa saat kemudian lampu utama kamar dimatikan, dan kamar
kini diterangi dengan bola lampu lima watt warna hijau. Kurasakan
langkah yang berat mendekatiku, lalu terdengar bunyi tempat tidur
berderit, tanda Bi Tuti sudah merebahkan badannya di atas kasur. Aku
mulai tidak sabar menunggu Rupanya pil tidur itu memang sangat manjur,
baru lima menit aku sudah merasakan tidak ada gerakan-gerakan lagi di
atas tempat tidur, dan kudengar desah nafas Bi Tuti sudah teratur, tanda
ia sudah tidur nyenyak. Dengan gemetar maka akupun mulai merayap keluar
dari kolong tempat tidur itu dan aku tidak langsung berdiri takut dia
belum tidur. Kutunggu lima menit.. sepuluh menit.. lalu kucoba menarik
kain yang belum sempat dibuka semua.. mungkin karena terlalu ngantuk..
dan tetap tidak ada reaksi. Akupun berdiri perlahan-lahan sambil
mendengarkan desah nafas Bi Tuti.
Cerita Dewasa
Akhirnya..
kulihat tubuh Bi Tuti telentang hanya memakai BH dan celana dalam warna
hitam. Sementara tangan kirinya masih memegang kain tidak sempat dibuka
semuanya. Saking ngantuknya membereskan kain dan bajunya. Aku menelan
ludah beberapa kali melihat gundukan buah dada Bi Tuti naik turun
seirama dengan desah nafasnya. Dengan tangan agak gemetar dan nafas agak
ngos- ngosan, pelan-pelan dari samping tubuh Bi Tuti kuletakkan
tanganku di perutnya lalu pahanya, lalu dengan lembut kusap-usap sambil
meyakinkan diri bahwa dia sudah benar-benar tidak merasakan usapan itu.
Akhirnya.. setelah aku yakin benar, tanganku mulai mengelus-elus buah
dada Bi Tuti, lalu kuremas-remas dengan lembut.. rasanya uahh, setelah
puas lalu kulepaskan BH Bi Tuti dengan tangan gemetar menahan gejolak
keinginan untuk segera meremas dengan keras sambil menyedot putingnya.
Setelah
BH terlepas, tergerailah dua buah dada Bi Tuti yang besar dengan kedua
putingnya yang berwarna agak kehitaman. Ketika telapak tanganku
menyentuh kulit yang lembut dan hangat terasa ada getaran aneh dalam
tubuhku yang mendesak untuk segera meremas-remas. Dengan tidak sabar
kuremas-remas buah dada itu sambil kuciumi dan kusedot-sedot putingnya
bergantian.. aduhh nikmatnya.. kugigit.. kusedot.. untuk mereguk
kenikmatannya.. kuendus-endus.. untuk menyerap baunya. Sementara tangan
kananku terus meremas- remas, tangan kiriku mulai menjarah bagian bawah
perut Bi Tuti, ketika kuusap-usap selangkangannya kulihat kepala Bi Tuti
bergerak menggeleng. Aku kaget sekali.. langsung kuhentikan semua
gerakan. Kutatap dalam-dalam wajah Bi Tuti untuk mengetahui apakah dia
terbangun atau tidak. Ternyata, dia hanya memindahkan posisi kepalanya
saja.. maka akupun semakin berani. Lalu aku pindah posisi, lalu naik ke
tempat tidur mendekati kedua kakinya.. Kucoba untuk menurunkan celana
dalamnya.. kuangkat pantatnya yang besar.. kutarik celana dalamnya.. Ya
ampuun.. kulihat memeknya ditutupi bulu keriting yang menumbuhi bagian
bawah pusar Bi Tuti.
Sementara
bibir memeknya tampak bagai garis kehitaman. Ohh indahnya.. kontolku
yang sudah tegang dari tadi, kian menegang dan berdenyut- denyut melihat
pemandangan yang terhampar di depanku, Bi Tuti telanjang bulat.
Akhirnya, kurenggangkan kedua kaki Bi Tuti, lalu aku mulai memainkan
jari-jariku menyibakkan bulu-bulu membuka bibir memeknya lalu kucium dan
kujilat- jilat.. biar agak bau tapi rasanya enaakk sekali.. terus
kujilat-jilat sampai puas.. kurasakan tubuh Bi Tuti sedikit
bergerak-gerak.. tapi aku tak peduli lagi.. akuu takk tahann lagii..
kedua kaki Bi Tuti lebih kurenggangkan lagi lalu kulipat dilututnya dan
kutahan dengan tanganku.
Kutempatkan
kedua lututku diantara pahanya dan aku mulai mengarahkan kepala
kontolku ke bibir memeknya.. kutekan perlahan-lahan.. bless.. kutekan
lagi..bless.. aduhh sempitnya.. ucoba lebih keras lagi.. bless..
terdengar bunyi prepett.. seperti kain sobek.. akhirnya kontolku asuk
semua rasanya agak perih tapi enaakk.. nikmaatt.. aku terdiam sejenak
merasakan hangat dan denyut memek Bi Tuti sampai kurasakan ada cairan
hangat di seputar kontolku.. aku pun enarik kontolku perlahan-lahan..
kutekan lagi.. tarik.. tekan.. tarik.. tekan.. crep.. crep.. crep.. hh
nikmat sekalii.. teruss sampai tangan dan pinggangku pegal.. Kurasakan
kontolku mulai berdenyut-denyut dan ngilu-ngilu enakk.. dan akupun makin
mempercepat gerakan-gerakan aju mundur.. sampai akhirnya kurasakan
ngilu.. geli.. yang amat sangat.. aku tak tahann lagii.. utekan kontolku
sedalam-dalamnya.. dan.. crett.. crett.. creett.. air maniku keluar
banyak sekali agai hujan.. saat itu kurasakan tubuhku bergetar keras
seperti menggigil kedinginan.. rasanya.. oohh.. tak terkira nikmatnya..
tak terasa tubuhku menindih tubuh Bi Tuti. Cerita Seks Bersambung ke
Desahan Seorang Janda Menahan Kenikmatan Dientot
Tamat