Cerita Bugil Hot Mesum Dengan Sepupu hanya Ditutupi BH
- Sepupuku ini baru sempat bertemu dengan orang tuaku dan kakakku saja
sewaktu mereka pergi ke daerah asal sepupuku di Jawa Timur. Nah, ketika
dia Study Tour ke kotaku, dia ingin mampir dan menginap di rumahku,
terus dia minta dijemput di depan salah satu bank di dekat Jalan yang
jadi trade marknya kotaku. Maka, aku bersama kakakku menjemput dia. Jam
4:25 sore, aku sampai di depan bank tersebut. Mobil kuparkir, lalu aku
bersama kakakku sambil membawa dua payung menghampiri bis-bis yang
diparkir di depan bank, agak lama juga aku mencari sepupuku ini, maklum
aku belum pernah bertemu dia dan kakakku sendiri agak lupa dengan
wajahnya. Setelah kurang lebih 5 menit, akhirnya bertemu juga. Kemudian
kami pulang ke rumahku, dia senang sekali bisa bertemu denganku.
Awalnya
dia berencana mau menginap 1 hari tetapi kemudian dirubah jadi 2 hari.
Sepupuku ini tidak punya saudara laki-laki, jadi ketika kami bertemu,
dia senang sekali dan menganggap aku seperti kakak kandungnya. Selama
dia menginap di rumah, dia selalu ingin dekat denganku terus. Aku
menganggap biasa-biasa saja dan tidak ada pikiran lain. Ketika dia mau
pulang, dia mau pulang sendirian, orang tuaku sepertinya tidak tega
melepas dia pulang sendirian, akhirnya aku disuruh mengantar dia pulang
ke Jawa Timur, padahal waktu itu aku sedang berobat jalan karena aku
mengidap alergi serpihan kulit manusia (aneh ya..? aku saja dulu tidak
percaya). Aku harus datang ke dokter pribadiku setiap hari Selasa dan
Juma™at buat disuntik.
Tetapi,
menurutku tidak apa-apa karena kupikir nanti jika sudah sampai di sana,
aku langsung pulang saja pikirku. Jadilah aku mengantar dia pulang ke
Jawa Timur. O.. iya, sebelum terlalu jauh aku bercerita, kuperkenalkan
dahulu diriku, namaku Padi dan nama sepupuku Ana. Di jalan kami
bercerita tentang daerah asalnya yang ternyata ada di kawasan pantai
utara Jawa Timur. Kami mampir ke Madiun dulu, karena katanya dia mau
mengambil baju-bajunya yang mau dibawa sekalian dicuci di rumah. Sampai
di Madiun, kira-kira pukul 5:00 sore, kami menuju tempat kosnya yang
sederhana di komplek Akabri. Setelah selesai dengan urusan di Madiun,
kami langsung pergi lagi meneruskan perjalanan. Di perjalanan, aku
bertanya dengan dia.
aœEh, An.. dari sini sampai ke kotamu berapa lama sih..?a tanyaku.
aœYaa¦ mungkin kira-kira 8 jam Mas..a katanya.
Dalam hati aku berpikir, aœWah, bakalan capek di jalan nih.. sialana¦a
Waktu berlalu, kira-kira pukul 9 malam, kami masih ada di atas bis
jurusan ke kotanya. Malam itu kurasakan sangat dingin, apalagi ditambah
tiupan angin yang sangat kencang. Di dalam bis yang lumayan penuh itu,
aku duduk di kursi kedua dari belakang sejajar dengan Ana. Pintu bis
yang ada di sebelah kananku ternyata tidak bisa ditutup, karena kuncinya
rusak kata kernetnya.
Ana
yang merasa kedinginan terkena tiupan angin, bingung mau bagaimana
sebab dia tidak membawa jaket atau sweater buat penghangat, sedangkan
aku sendiri tidak masalah. Kemudian kutawarkan dia untuk pindah tempat
duduk di sebelah kananku, yah.. lumayan dia terlindung dari angin oleh
badanku. Sekitar 10 menit setelah itu, dia bilang katanya dia merasa
mengantuk, aku tawarkan dia untuk tidur saja di pangkuanku. Dia mau dan
langsung dia rebahkan kepalanya di pahaku, waktu itu aku sebenarnya agak
kawatir dengan penumpang lainnya. Jangan-jangan ada yang berpikiran
macam-macam tentang kami, meskipun begitu aku akhirnya memutuskan untuk
santai saja. Si Ana dengan cepat tertidur dengan pulasnya, tanganku
kutaruh di atas punggungnya biar dia merasa lebih hangat.
Cerita Bugil.
Tawaranku untuk tidur di pahaku ternyata berbekas sekali di hati
sepupuku ini, sepertinya dia merasa ada sesuatu yang lain yang
dirasakannya setelah dia merebahkan kepalanya di pahaku. Mungkin karena
dia masih anak SMU yang belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang
cowok, tetapi kok ya kebetulan justru dengan kakak sepupunya sendiri.
Tidak
terasa, bis telah memasuki terminal di kotanya. Waktu itu jam 1 pagi.
Kami langsung mencari becak untuk pulang ke rumahnya. Sampai di rumahnya
yang sederhana (bapaknya bekerja sebagai sipir penjara dan ibunya guru
SD), aku langsung disambut oleh Omku. Kami berbincang-bincang sejenak
sambil nonton TV. Tidak lama kemudian, Omku minta diri untuk tidur. Aku
mempersilakan Omku untuk tidur. Aku sendirian yang belum merasa
mengantuk dan meneruskan melihat TV. Si Ana sendiri ada di kamarnya
sedang bicara dengan adiknya. Kira-kira 5 menit kemudian, kudengar ada
orang datang masuk ke ruang TV dimana aku berada, yang Ternyata Ana.
Aku bertanya pada dia, aœLho.. An, kamu ngga tidur? Kan udah malem, bahkan pagi nih!a
aœLah.. mas sendiri gimana? Kok ngga tidur juga?a dia balik bertanya.
aœMas kan udah biasa melek sampai pagi, lagian acaranya bagus nih.a
aœIya deha¦ tapi Ana boleh nemenin Mas ngga?a
aœBoleh aja, asal bikinin Mas kopi panas donga¦a
aœIh.. Mas curang.. Oke deh Ana buatin.a
Kemudian
dia beranjak pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untukku. Sewaktu dia
jalan ke dapur, dia melewati ruangan makan yang gelap, sedangkan ruang
dapurnya sendiri dibiarkan terang, sebab Omku orangnya suka makan, jadi
kalau malam dia sering ke dapur untuk cari makanan. Sewaktu dia melewati
kamar makan yang kebetulan bisa terlihat dari tempat dudukku, aku agak
kaget karena kulihat dasternya kelihatan menerawang terkena cahaya dari
dapur. Si Ana ini sebenarnya tidak hanya manis tetapi juga cantik,
tubuhnya agak gemuk, tinggi sekitar 158 cm, ukuran dadanya berapa ya?
Tidak tahu.. Kulitnya sawo matang dan yang paling menarik adalah matanya
yang khas cewek Jawa, tidak besar juga tidak kecil.
Sekilas
kulihat bentuk tubuhnya sewaktu dia melewati ruang makan. Jantungku
merasa agak berdebar karena aku kan laki-laki, jadi lihat yang seperti
itu kan, ya gimana gitu. Selesai dia membuat kopi, segera dia menuju ke
arahku, terus dia bergabung nonton MTV. Sejenak aku lupa akan kejadian
yang mendebarkan tadi (menurutku lumayan mendebar kan lho).
Kami berbincang-bincang sambil mengomentari pemenang-pemenang yang sedang diumumkan di TV.
Tiba-tiba dia nyeletuk, aœMas.. tadi enak lho tiduran di pangkuannya Mas..a
aœKenapa emangnya? Mau lagi ya, sini deket-deket Mas..?a kataku.
aœOke deh!a
Kemudian dia mendekat ke arahku dan merebahkan kepalanya di pahaku
lagi. Nah, sekarang aku mulai berpikiran macam-macam nih, karena kan dia
hanya memakai daster dan di dalam dasternya hanya ada CD dan BH saja.
Mau tidak mau batangku mulai bereaksi pelan-pelan, tetapi dia tidak
tahu. Masih sekitar 10 menit kami berbincang-bincang, tanganku kutaruh
di atas pinggulnya, dan kurasa dia tidak keberatan. Lama-lama sepertinya
dia mengantuk dan mulai sembarangan kalau menjawab pertanyaan atau
komentarku.
aœAn.. geser dikit dong, soalnya pahaku kesemutan nih! Sebentar, ganti pake bantal aja yaha¦?a
Kemudian kuangkat kepalanya, kupindahkan dia ke bantal yang ada di
sofa, sedangkan kakinya kuangkat ke atas pahaku. Singkat cerita, dia
sudah tertidur dengan pulas. Pikiranku mulai keluar pikiran iseng,
tanganku aku rabakan di kakinya. Sambil pura-pura memijat, dari bawah
pelan-pelan naik ke atas, terus turun lagi, naik lagia¦ lama-lama aku
memijatnya terlalu naik sampai hampir menyentuh pangkal pahanya. Rupanya
dia terbangun.
aœNgapain Mas..?a
aœEh.. ngga kok cuman mijitin, kan kamu capek barusan abis naik bis jarak jauh?a
aœMmm.., boleh juga.. tapi mijitnya jangan keras-keras ya Masa¦a
aœOke An..a
Nah, aku teruskan kembali memijatnya, tetapi kali ini mijatnya lain,
aku kan sedikit-sedikit pernah baca tentang pijatan erotis, maka aku
mencoba untuk mempraktekkannya sekarang. Pertama kuletakkan tanganku di
telapak kakinya, terus kucari simpul yang bisa membangkitkan gairah
seksnya.
aœNah, ketemu niha¦a batinku.
Pelan-pelan kupijat bagian itu sambil tanganku yang satunya juga memijat-mijat paha kanannya.
Setengah sadar dia bertanya, aœMas, kok enak banget sih pijitannya?a
aœTenang aja deh, yang ini belum apa-apa, entar ada yang lebih hebat.a jawabku.
Lama kelamaan dia jadi tidak merasa ngantuk, tetapi menikmati
pijatan-pijatan tanganku sambil mengeluarkan suara lenguhan yang sangat
merangsang, aœNngggha¦ ngghha¦ enak loh Masa¦ agak naik dikit Mas.. yang
ini lho di atas dengkula¦, ya.. di situa¦ terus.. terus..a
Aku
tahu dia tidak sadar kalau sedang aku kerjain. Lama-lama kulihat dia
sepertinya mau bangkit dari tidurnya. Kemudian waktu kubiarkan, ternyata
dia tiba-tiba memelukku dan berusaha mencium bibirku. Aku sendiri
menyambut ciumannya dengan bersemangat.
aœWah, lha ini nih yang kunanti,a batinku.
Ciumannya lumayan dahsyat, sampai lidahnya masuk ke mulutku seperti
ular. Lidahku sendiri jadi tidak mau kalah menyambut lidahnya yang masuk
ke mulutku (heran juga anak ini kok bisa senekat ini pikirku). Dan
ternyata, kok luar biasa ciummannya untuk ukuran anak SMA yang belum
pernah pacaran, tangannya melingkar di punggungku dan berusaha masuk ke
dalam t-shirtku.
Gerakan tubuhnya terlihat sekali terbakar oleh
rangsangan yang kuberikan melalui pijatan tadi, tubuhnya naik turun
sambil sesekali bergoyang ke kiri dan ke kanan. Lama-lama daster yang
dia kenakan tertarik ke atas oleh karena gerakannya tersebut, dan
tanganku pun bisa leluasa untuk memegang pantatnya. Dia memakai celana
dalam yang tipis berenda. Pelan-pelan kumasukkan tanganku ke dalam
CD-nya dari atas.
Aku berhasil memegang pantatnya, wah.. seketika
aku merasakan suatu gelora dalam diriku, sepertinya aku sendiri mulai
terserang rangsangan yang sangat kuat. Aku pijat-pijat pantatnya,
sementara kami masih saling berpagut, dia sendiri terlihat sangat
menikmati pijatan tanganku pada pantatnya. Lalu aku mulai menaikkan
tanganku, berusaha untuk membuka dasternya. Tanpa hambatan, aku berhasil
menaikkan dasternya sampai ke bagian leher, kudorong dia pelan-pelan ke
belakang, dia berusaha untuk tetap memelukku.
Aku berbisik padanya, aœAn.. tolong kamu mundur sebentar, aku tolong kamu nglepasin dastermu.a
Dia mengangguk pelan, lalu kubuka dasternya. Kulihat tubuhnya yang mulus hanya ditutupi BH dan CD saja.
aœAn.. gimana kalo semuanya aku bukaa¦?a tanyaku.
Ternyata ia mengangguk mengiyakan, aœSilakan Masa¦a
Kubuka pelan-pelan BH-nya sambil kubelai dua bukit di dadanya dengan lembut.
aœEhma¦ Mas.., Ana sayang sama Masa¦a katanya.
Aku tidak menjawab perkataannya. Kemudian kudekatkan wajahku ke buah
dadanya dan mulai mengulum-ngulum pucuk bukitnya. Dia terlihat sangat
menikmati perlakuanku tersebut, matanya terlihat sayu dan sepertinya
mengharap yang lebih dari sekedar dikulum pucuk bukitnya.
Aku
menengok ke arah jam dinding yang terletak di atas pintu, jarum
menunjukkan pukul 12:08 malam. Aku sempat berpikir, sebenarnya bahaya
kalau tiba-tiba Om atau Tanteku memergoki kami yang sedang asik di sini.
Sekejap aku memutar otak, aku lalu berbisik ketelinga Ana.
aœAn.. kita pindah ke kamarku aja yah?a
Dia tersentak mendengar bisikanku. Aku sendiri kaget, aœApaan nih? Kok jadi medadak berubah?a
Aku rasakan ternyata Ana sepertinya tersadar atas apa yang sedang
diperbuatnya. Dengan terburu-buru, dia menyambar pakaiannya dan berusaha
lari menuju kamarnya. Cepat sekali kejadian itu berlalu, aku sendiri
tidak sempat melakukan apa-apa, aku hanya melongo seperti Mandra diputus
Munaroh. Gila, pembaca tahu sendiri kan? Lagi enak-enak bercumbu, tidak
tahunya putus di tengah jalan. Tetapi aku sendiri maklum, sebenarnya
Ana adalah anak yang taat beribadah. Dan kuyakin yang barus saja
kualami, sebenarnya dia melakukannya di bawah sadar.
Paginya, aku
bangun sekitar pukul 9:00, ternyata aku semalam ketiduran di depan TV.
Aku ngucek-ucek mataku sambil mencari dimana kacamataku, agak lama
kucari, tetapi tidak ada.
aœMana ya?a aku bergumam pelan.
Kebetulan Tante yang berjalan melewati ruang TV menuju dapur mendengar gumamanku.
aœCari apa Di?a tanya Tanteku.
aœTante liat kacamata Padi ngga?a
aœNgga tuh.. mungkin jatuh di bawah meja, coba cari lagi,a sambil dia berjalan menuju ke arahku ingin membantu mencari.
Dicari-cari sudah lama, tetap tidak ketemu, aœYep.. nanti dicari lagi deh Tante.. biar Padi mandi dulu.a kataku.
aœOke lah, nanti Tante bantu lagi carinya.a
aœOke Tante..a sahutku.
Aku bergegas menuju ke kamarku, mengambil peralatan mandiku.
Kamarku terletak di sebelah kamar Ana, sempat kulihat dari celah kamar
yang tidak tertutup semua. Ana masih kelihatan pulas tidurnya. Mungkin
dia tidak bisa tidur setelah kejadian tadi malam. Habis mandi aku menuju
ke ruang TV lagi untuk mencari kacamataku yang masih sembunyi. Ternyata
tante sudah ada di sana sedang nonton TV.
Aku tanya ke tante, aœKetemu ngga kacamatanya Tante?a
aœNgga tuh Di.. udah tante cari dimana-mana ngga ada, sampai-sampai sekalian Tante ngebersihin ruang ini deh.a
aœWaduha¦ gimana niha¦ susah deh. Aku kan ngga bisa baca kalo ngga pake
kacamata,a pikirku, aœYa apa mau dikata, kalo lagi apes, gini deh
jadinya.a
Pukul 9:30, kulihat kamar Ana sudah terbuka, beberapa
menit kemudian Reni (ini nama adiknya) bergabung dengan kami di ruang TV
sambil membawa nampan berisi 4 gelas teh.
Aku tanya dia, aœKok cuman empat gelasnya Ren?a
aœOoo, Papa kan udah berangkat kerja Mas.., jadi Reni bikinnya cuman 4.a jawabnya.
aœGitu ya?a sahutku.
Kami lalu berkumpul membicarakan keadaan Kota Tuban, tiba-tiba si Reni bertanya ke Tante.
aœMa.. kacamata yang di kamar Reni itu punya siapa sih?a tanyanya.
aœEit! lha ini dia nih si kacamata.. ternyata ngumpet di sana,a spontan aku menyahut, aœHeh! Itu pasti kacamataku.a
aœBetul.. itu pasti kacamatanya Mas Padi, Ren!a sahut Tante, aœSana cepet ambilin!a
Reni lalu berdiri dan mesuk kamar untuk mengambil kacamataku. Aku
berpikir, mungkin kacamataku semalam kesangkut di bajunya Ana. Sesaat
kemudian Reni kembali membawa kacamataku, aku sempat was-was, moga-moga
Tante tidak curiga kenapa kok kacamataku sampai bisa mampir kesana.
Memang ternyata dia tidak curiga sama sekali.
Pukul 10:00, Tante
pamit mau berangkat ke pasar yang tidak terlalu jauh jaraknya dari
rumahnya, si Reni ikut. Aku ditinggal sendirian. 5 menit waktu berlalu,
aku mulai bosan, terus aku menuju teras depan ingin merokok. Di teras
ternyata ada koran edisi hari itu, aku tertarik untuk membacanya.
Kubolak-balik halamannya, tidak ada yang menarik. Bosan lagi deh,
ngelamun jadinya. Aku teringat kejadian tadi malam.
Dalam hati aku
berpikir, aœSekarang di rumah cuman ada aku berdua sama Ana. Wuih!
kaloa¦ hehehe kaloa¦ misalnya aku iseng gimana ya?a
Akhirnya, ternyata aku nekat juga.
Aku bangkit dari tempat dudukku, masuk ke dalam. Sampai di depan pintu
kamarku, aku punya ide. aœMmmm harusnya pintu depan kututup ya, terus
aku pasangkan kaleng krupuk di bagian dalam, biar kalo kebuka dari luar
kalengnya kegeser dan bikin suara brisik.a pikirku.
Cepat-cepat
kukembali ke ruang tamu dan melakukan rencanaku. Setelah itu, aku
kembali lagi ke kamar, hati-hati kuintip ke dalam kamarnya Ana, ternyata
dia masih pulas tertidur. Aku berjingkat masuk ke kamarnya, perlahan
aku duduk di samping tidurnya. Dia tidurnya mengorok hingga aku mau
tertawa waktu itu, tetapi kutahan karena takut dia terbangun. Dengan
hanya diterangi lampu baca (kamarnya tidak ada jendelanya), kupandangi
wajahnya lama. 5 menit lebih kupandangi dia, semakin lama semakin manis.
aœGila ya, dengan adik sepupu kok seperti itu?a tapi pikirku, aœBiarin aja lah, iseng-iseng berhadiah.a
Kemudian aku mulai mencoba membelai rambutnya, pelan tetapi pasti. Dia
tidak bereaksi, dia tidurnya brukut (memakai selimutnya sampai menutupi
leher). Aku berusaha membuka selimutnya perlahan, kutarik ke bawah dan
dia tetap tidak bereaksi. Kumasukkan tanganku ke dalam selimutnya sambil
berusaha mencari payudaranya. Dengan tanpa kesulitan, tanganku sudah
memegang payudaranya, tetapi masih terhalang dasternya.
aœEita¦ nanti dulua¦ ternyata dia ngga pake BH! Berarti semalam dia ngga pake BH-nya lagi dong, wah asik niha¦a pikirku.
Lalu kumasukkan tanganku melalui lubang di antara kancing dasternya.
Tidak susah juga, tanganku sudah memegang daging empuk dengan tonjolan
di puncaknya.
Ana menggeliat, agak keras menggeliatnya, dia terbangun.
aœMampus gua,a pikirku.
Dia melotot sambil teriak, aœLepasin dong Masa¦ apa-apaan nih Mas?a
Aku gelagapan berusaha mencari alasan, aœAna¦ kamu ngga inget semalem ya?a
aœLupain aja Mas! Ana ngga mau lagi, ngga boleh, entar dosa Mas!a
aœTapi Ana semalem udah ngelakuin dosa lhoa¦ kenapa ngga sekalian aja?a rayuku.
Kali ini dia benar-benar marah. Ana teriak-teriak menyuruhku keluar
dari kamarnya. Aku turut saja, untung letak rumahnya berjauhan dengan
tetangga, jadi aku tidak takut teriakannya terdengar tetangganya.
Waha¦ gagal nih ceritanya.., aku akhirnya hanya meraba-taba batang
kemaluanku yang menganggur karena tidak jadi dipakai. Aku duduk di ruang
TV lagi. Melihat acara tarian Bangkok, lumayan lah buat obat, melihat
penyanyi Thailand yang cantik-cantik. Sebentar kemudian Ana keluar dari
kamarnya, dia menuju ke arahku. Aku berusaha tidak peduli, dia lalu
duduk di dekatku.
Katanya, aœMas maapin Ana ya? Ana udah bentak-bentak Masa¦a
aœNgga papa An.., Mas yang salah.a balasku.
aœSebenarnya Ana sayang sama Mas, tapi kita kan masih bersaudara,
apalagi nanti kalo ketahuan ama Papa-Mama kan bisa berabe Mas!a
jelasnya.
aœYa sudah.. lupain aja An, toh kamu masih muda. Nanti juga pasti ada cowok lain yang lebih pantas buat kamu.a lanjutku.
aœIya Mas, Masa¦ Ana mau ngasih sesuatu buat Mas.a
aœApa An?a tanyaku.
aœLiat sini deh Mas..a (dia mulai tidak kaku lagi)
Aku menoleh ke arahnya, tiba-tiba dia mendekatkan bibirnya ke arah bibirku.
aœMmpphha¦a
aœPlas!a jantungku spontan berdegup keras, aœKok tau-tau nyium sih?a pikirku, tetapi kunikmati saja, enak sih.
Pertamanya dia hanya mau mengecup saja, tetapi kulingkarkan tanganku di
lehernya, dan kudekap dia. Dengan lembut kukecup bibirnya, dia tidak
berontak ternyata, aku pererat dekapanku, dada kami sudah saling
menempel. Aku merasakan kalau dia masih belum memakai BH-nya. Dengan
perlahan kubelai punggungnya, dasternya yang terbuat dari sutera terasa
halus sekali, sensasinya justru membuatku jadi semakin ON saja.
Coba
saja pasangan anda disuruh pakai lingerie yang bahannya sutera,
ditanggung kalau diraba pasti enak sekali. Lama kami berciuman dengan
posisi itu, akhirnya capai juga aku. Kulepas pelukanku dan mengakhiri
ciuman.
Aku berkata pada Ana, aœSini Ana¦ Mas pangku..a
aœNgga ah Masa¦ nanti kayak tadi malem deh jadinyaa¦!a
aœPercaya deh sama Masa¦ ngga sampe ngelakuin yang ngga-ngga kok, okey?a
Dia akhirnya mengalah, mungkin dia masih ada rasa ingin juga, dia juga
tahu kalau sekarang kami hanya berdua saja di rumah, So? Why not?. Dia
duduk di pangkuanku menghadap TV, tanganku bergerak dengan bebas di
dadanya.
Kuraba dadanya sambil berkata, aœAn.. Ana ngga marah-marah lagi nih?a
aœBiarin lah Mas.. udah terlanjur nih, tapi janji ya jangan kebablasena¦a pintanya.
aœOkey An!a
Dari belakang, sambil tanganku membelai payudaranya, kulihat dia
memejamkan matanya menikmati belaian tanganku. Tanganku meraba
payudaranya dengan hati-hati, penuh perasaan aku membelainya, aku
sendiri memejamkan mataku jadinya. Pelan tapi pasti, tanganku bergerak
turun menuju perutnya. Agak dekat dengan V-nya kugunakan kuku jariku
yang agak panjang untuk membangkitkan rangsangan di perutnya. Kulirik
dia, terlihat dia menahan perutnya dengan membuat kaku daerah itu.
Dia menikmati perbuatanku, perlahan dasternya kutarik ke atas, dia diam
saja, ujung dasternya sudah sampai ke pahanya. Sedikit lagi pasti aku
bisa meraih celana dalamnya. Akhirnya sampai juga, CD-nya sudah tidak
tertutup lagi, sekilas kulihat bercak basah di ujung V-nya. Tanpa
berpikir lama, kupindahkan tanganku ke sana, tanganku merasakan memang
di daerah itu sudah basah. Kusimpulkan pasti dia sudah terangsang berat.
Lalu kuselipkan tanganku ke dalam CD-nya, tetapi dia kali ini menahan
tanganku supaya tidak masuk ke sana. Aku urungkan niatku untuk itu,
tanganku hanya menggosok-gosok dari luar saja. Kemudian terlihat dia
mengeluarkan lenguhan dan badannya menegang, seperti menahan sesuatu.
Orgasme rupanya. Lalu badannya melemas lunglai di pelukanku.
Tanganku yang masih berada di selangkangannya merasakan kalau CD-nya
bertambah basah. Kemudian Ana memandangiku. Lama kami berpandangan.
Ana kemudian bicara, aœMas, kita lakukan yuk. Ana udah ngga tahana¦a
Wah, benar-benar kejutan..! Ana tiba-tiba berubah pikiran. Hal ini
tidak akan kusia-siakan. Tanpa bicara lagi, langsung kucium dan kuremas
dadanya yang masih tertutup daster. Ana melenguh keenakan karena remasan
itu. Kemudian aku melepas remasannya. Kupandangi dadanya di balik
dasternya, kupandangi seluruh tubuhnya, kulitnya yang sawo matang.
Kemudian aku melepas dasternya karena akan merepotkan saja.
Kini ia
polos tanpa satu benang pun menutupi tubuhnya. Kemudian aku membopongnya
ke kamar tidurku dan kubaringkan ia di tempat tidur, lalu kuciumi
seluruh tubuhnya. Tubuh Ana bergetar hebat, menandakan bahwa dia baru
pertama kali ini melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya. Kemudian
aku mencium dan menjilat bagian perutnya dan mulai ke bawah dan mulai
meraba serta membuka kedua pahanya degan kedua tanganku.
Tangan
kananku membuka belahan vaginanya sedangkan seluruh bagian mulutku mulai
mengolah bibir-bibir vaginanya. Tangan kiriku masih meremas buah
dadanya yang sebelah kanan. Aku merasakan adanya cairan yang mulai
membasahi permukaan bibir vaginanya. Aku terus menyedot dan
menggigit-gigit perlahan labia mayoranya dengan asyik, sedangkan tangan
kiriku sekarang meraba-raba klitorisnya dengan cairan pelumas dari
lubangnya.
Asyik sekali, karena terlalu keasyikannya, secara tidak
sadar, ada dua tangan menjambak rambutku, aku tidak menghentikan
aktivitasku. Mulanya kupikir hanya gerakan kenikmatan yang diterimanya
secara erotis. Eh, kok tambah lama terasa ada goyangan perlahan di
bagian selangkangannya.
Begitu pula tanpa kusadari, ada suara-suara
nafas tertahan dan jambakan di rambutku bukan lagi jambakan pasif,
tetapi mulai membelai dan memegang kupingku. Aku tiba-tiba sadar. Dia
benar-benar menikmatinya. Aku termanggu duduk di antara selangkangannya
dan melihat ke arah wajahnya.
aœKok.., berhenti Mas..?a suaranya berat perlahan dengan tatapan wajah yang sayu.
aœEhh.. terusin Masa¦ hhha¦ kurang dikit lagi..!a suaranya tertahan.
Aku masih terduduk bingung dan memandangnya dengan pandangan bodoh. Dan
yang menjengkelkan, batang kejantananku tidak berkompromi. Dia tegak
mengacung, sehingga mencuat di antara kaosku. Kepalanya tampak licin
karena cairan bening yang keluar. Sebenarnya batang kejantananku lumayan
besar dan panjang, sehingga tampak mencuat tinggi. Tiba-tiba Ana
bangun, dan duduk di hadapanku, memandangku dengan sayu.
Tiba-tiba
tangannya mulai bergerak ke arah batangku, dan memegang lama sambil
tersengal-sengal sehabis melumatnya. Kemudian memandangku perlahan dan
meletakkan dirinya telentang di ranjang. Ana berdiri di atas tempat
tidur dan berjongkok di depanku. Kemudian dia membuka kedua pahanya dan
mengangkat lututnya ke atas sehingga lubangnya terlihat.
Ia meraba permukaan vaginanya sambil perlahan memandangku dan berkata, aœAyo Masa¦ masukin..!a
Aku seperti tersihir, antara bingung dan nafsu, menggerakkan diri untuk
berlutut di antara kedua pahanya dan memegang kepala batangku yang
licin terkena ludahnya dan mengarahkannya ke lubang merah mengkilat itu.
Sejenak aku lupa bahwa dia masih belasan tahun, yang kurasakan secara
reflek setelah dikenyot habis-habisan olehnya, ialah bahwa ia sudah
tidak perawan lagi.
Dan,
aœSsleeeppp..a ketat tetapi tidak begitu menjepit dan tanpa hambatan
sama sekali (benar dugaanku). Aku menusukkan seluruh panjang batangku ke
dalam lubang itu, dan hebatnya seluruh panjangnya batang kejantananku
itu masuk total ke dalamnya serta membiarkannya sejenak merasakan
denyutan hangatnya. Ana melenguh agak keras. Aku khawatir juga karena
dia akan merasakan sakit di bagian dalam vaginanya. Tetapi karena
malaikat nafsu lebih berkuasa, ya sudah aku santai saja dan mulai
menarik batangku itu dari dalam lubangnya dan memasukkannya lagi
seluruhnya.
Entah
karena apa, aku tidak begitu merasakan rasa nikmat yang cepat naik.
Memang terasa basah, licin dan enak tetapi, ya lebih karena ini memang
sedang bersetubuh. Aku mulai berpraktek dengan berbagai macam cara
menusuk dan arah tusukan ke dalam lubang vaginanya. Yang mulai
mencemaskanku, Ana sama sekali tidak berusaha menahan suaranya. Ia mulai
melenguh dan mengerang keras-keras ketika aku mulai mempercepat
gerakanku. Aku antara cemas dan mulai nikmat, tidak peduli lagi. Lagi
pula suaranya mulai merangsangku dan ini membuatku menusuk-nusuk dengan
gerakan yang cepat dan keras. aœAaahhha¦ aayooo Massa¦ aaduhha¦ cepat
Masss..!a pintanya dengan nafsu.
Dia
mengangkat kedua tangannya ke atas kepalanya. Bunyi beradunya kemaluan
kami mulai terdengar keras, berkecepak-kecepak dan aku mulai merasakan
lereng gunung telah kucapai. Tinggal mendaki cepat dan sampai di puncak.
Tiba-tiba Ana menghentikan gerakanku, dan menutup kedua pahanya
sehingga terasa ada jepitan yang luar biasa di sekujur batangku.
Kemudian dia memandangku sayu. Aku tahu apa yang dimaksudkannya dan
mulai menggenjot lagi. Aku menjepitkan kedua betisnya di antara leherku
dan bertumpu pada kedua tangan, sedang aku membentuk busur dengan
tubuhku, merapatkan kedua pahaku sehingga terasa batangku membesar dan
mulai menusuk-nusuknya cepat.
aœAaahhha¦
sssa¦a terdengar bunyi-bunyian antara suaranya yang merangsang dan
bunyi kecepakan kemaluan kami yang beradu, sedangkan aku sendiri
mengeluarkan suara helaan nafas yang cepat. Beberapa menit kemudian, aku
merasakan aliran yang semakin cepat memenuhi pinggul dan seluruh
tubuhku. Keringatku telah mengucur deras. Dan, aœAnnna¦ Annaaaa¦
aaadduuhhha¦ ssssa¦ Ann..!a spermaku menyemprot deras ke arah perutnya.
Aku mengerang keras dan terus mengocok batang kemaluanku. Kemudian
tanganku yang mulai begerak ke arah vaginanya segera menusuk-nusukannya.
Lama aku terus menusuk-nusuk lubangnya karena rasa nikmatnya terus
mengalir hingga tidak berapa lama kemudian Anna berkata, aœMasssa¦ aaaa¦
Maassa¦ ssshhha¦ aaddduuhh..!a
Ana
menaikkan pelvisnya dan menerima tusukan-tusukan terakhirku dengan
denyutan dinding vagina yang terasa cepat dan kenyal. Aku menindih
tubuhnya yang kecil dan merasakan detak jantung yang cepat di dadanya
dan dengusan nafas hangat di ubun-ubunku. Jariku masih menancap dalam di
dalam vaginanya dan merasakan denyutan yang tidak kunjung reda.Kemudian
aku tergeletak di sampingnya, aku berkata kepada Ana, aœAna¦ kamu
sekarang mandi saja ya..? Kayaknya kamu bau deha¦aaœSialana¦ iya deh,
Ana mandi, makasih ya Masa¦ Ana udah dikasih pelajaran sama Mas.
Aku
tidak merasa menyesal karena dapat seperti yang kubayangkan (gadis yang
benar-benar perawan). Yah, lumayanlah bisa meraba-raba kan? Ana lalu
berdiri hendak menuju ke kamar mandi, sebelum dia pergi dia menoleh ke
arahku lalu menunduk dan menciumku sebentar. Aku belaikan tanganku ke
dadanya dan V-nya. BERSAMBUNGÂ
Tamat