Cerita Ngentot Keluar Darah Perawan
- Tempat berbagi Cerita&Foto Sex, Dewasa, ABG, HOT, Tips Bercinta
:Cerita Seks Keluar Darah dari Memek. Pengalamanku ini aku tuangkan
secara pribadi aku orangnya supel, saat ini aku sudah berkeluarga, tapi
dalam perjalanan rumah tangga aku mempunyai simpanan yang aku cintai dan
sudah aku anggap seprti istri keduaku.
Dalam
cerita ini dia sering aku panggil cintaku, dia ingin sekali melihat aku
bercinta dengan wanita lain. Suatu hari cuaca panas banget, saat
menyetir mobil aku hidupka AC yang langsung menghadap wajahku dan
cintaku, karena terburu buru aku melaju dengan kecepatan kencang karena
ada keperluan bisnis yang mendadak, karena tak sempat ngisi bensin
sebelum berangkat ternyata bensin mobilku harus mengarah ke pom bensin.
Dalam
setiap antrian mobil yang cukup panjang terlihat ada gadis-gadis
penjaja minuman berenergi. Sekilas cukup mencolok karena seragamnya yang
cukup kontras dengan warna sekelilingnya. Dari sederetan gadis-gadis
itu tampak ada seorang yang paling cantik, putih, cukup serasi dengan
warna-warni seragamnya.
Ia
terlalu manis untuk bekerja diterik matahari seperti ini walaupun
menggunakan topi. Tatkala tersenyum, senyumnya lebih mengukuhkan lagi
kalau di sini bukanlah tempat yang pantas baginya untuk bekerja.
Aku
sempat khawatir kalau ia tidak berada di deretanku dan aku masih hanyut
dalam berbagai terkaan tentangnya, aku tidak sempat bereaksi ketika ia
mengangguk, tersenyum dan menawarkan produknya. Akhirnya dengan wajah
memohon ia berkata, "Buka dong kacanya.." Segera aku sadar dengan
keadaan dan refleks membuka kaca jendelaku.
Cerita Ngentot.
Cintaku hanya memperhatikan, tidak ada komentar. Meluncurlah kata-kata
standar yang ia ucapkan setiap kali bertemu calon pembeli. Suaranya enak
didengar, tapi aku tak menyimaknya. Aku malah balik bertanya, "Kamu
ngapain kerja di sini?" "Mom, kita kan masih perlu sekretaris, kenapa
tidak dia aja kita coba." "Ya, boleh aja", jawab cintaku. "Gimana mau?"
tanyaku kepada gadis itu. "Mau.. mau Mas", katanya.
Setelah
kenalan sebentar dan saling tukar nomor telepon, kulanjutkan
perjalananku setelah mengisi bensin sampai penuh. Cintaku akhirnya tahu
kalau maksudku yang utama hanyalah ingin 'berkenalan' dengannya. Ia
sangat setuju dan antusias.
Malam
sekitar jam 20:00 HP cintaku berdering, sesuai pembicaraan ia akan
datang menemui kami. Setelah diberi tahu alamat hotel kami, beberapa
saat kemudian ia muncul dengan penampilan yang cukup rapi. Ia cepat
sekali akrab dengan cintaku karena ternyata berasal dari daerah yang
sama yaitu , Jawa Barat.
Tidak
sampai setengah jam kami sudah merasa betul-betul sebagai suatu
keluarga yang akrab. Ia sudah berani menerima tawaran kami untuk ikut
menginap bersama. Ia sempat pamit sebentar untuk menyuruh sopir salah
satu keluarganya untuk pulang saja, dan telepon ke saudaranya bahwa
malam itu ia tidak pulang.
Setelah
cerita kesana-kemari akhirnya obrolan kami menjurus ke masalah seks.
Setelah agak kaku sebentar kemudian suasana mencair kembali. Kini dia
mulai menimpali walau agak malu-malu.
Singkat
cerita dia masih perawan, sudah dijodohkan oleh keluarganya yang ia
belum begitu puas. Keingintahuannya terhadap masalah seks termasuk agak
tinggi, tapi pacarnya itu sangat pemalu, termasuk agak dingin dan agak
kampungan walau berpendidikan cukup.
Kami
ceritakan bahwa dalam masalah seks kami selalu terbuka, punya banyak
koleksi photo pribadi, bahkan kali ini kami ingin membuat photo ketika
'bercinta'. "Udah ah, kita sambil tiduran aja yuk ngobrolnya", ajak
cintaku. "Nih kamu pakai kimono satunya", kata cintaku sambil memberikan
baju inventaris hotel.
Sedangkan
aku yang tidak ada persiapan untuk menginap akhirnya hanya menggunakan
kaos dan celana dalam. Ia dan cintaku sudah merebahkan badannya di
tempat tidur, kemudian aku menghampiri cintaku langsung memeluknya dari
atas.
Kucumbu
cintaku dari mulai bibir, pipi, leher, dan buah dadanya. Cintaku
mengerang menikmatinya. Aku menghentikan cumbuanku sejenak kemudian
meminta tamu istimewaku untuk mengambil photo dengan kamera digital yang
selalu kami bawa.
Tampak
ia agak kikuk, kurang menguasai keadaan ketika aku menolehnya. Setelah
aku mengajarinya bagaimana menggunakan kamera yang kuberikan itu,
kemudian kuteruskan mencumbu cintaku.
Dengan
telaten kucumbu cintaku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kini
tamuku tampaknya sudah menguasai keadaan, ia dengan leluasa mengintip
kami dari lensa kamera dari segala sudut. Akhirnya cintaku mencapai
klimaksnya setelah liang senggamanya kumainkan dengan lidah, dengan
jari, dan terakhir dengan batang istimewaku.
Sedangkan
aku belum apa-apa. "Sekarang gantian Rin, kamu yang maen aku yang
ngambil photonya", kata cintaku. "Ah Mbak ini ada-ada aja", kata Rini
malu-malu. Sebagai laki-laki, aku sangat paham dari bahasa tubuhnya
bahwa dia tidak menolak.
Dalam
keadaan telanjang bulat aku berdiri dan langsung memeluk Rini yang
sedang memegang kamera. Tangan kirinya ditekuk seperti akan memegang
pinggangku, tapi telapaknya hanya dikepal seolah ragu atau malu.
Kuraih
kamera yang masih di tangan kanannya kemudian kuberikan kepada cintaku.
Kini aku lebih leluasa memeluk dan mencumbunya, kuciumi pipi dan
lehernya, sedang tanganku terus menggerayang dari pundak sampai lekukan
pantatnya.
Pundaknya
beberapakali bergerak merinding kegelian. Kedua tangannya kini ternyata
sudah berani membalas memelukku. Kemudian aku memangkunya dan
merebahkannya di tempat tidur. Kukulum bibir mungilnya, kuciumi pipinya,
kugigit-gigit kecil telinganya, kemudian kuciumi lehernya punuh sabar
dan telaten.
Ia
hanya mendesah, kadang menarik nafas panjang dan kadang badannya
menggelinjang-gelinjang. Tidak terlalu susah aku membuka kimononya,
sejenak kemudian tampak pemandangan yang cukup mempesona.
Dua
bukit yang cukup segar terbungkus rapi dalam BH yang pas dengan
ukurannya. Kulitnya putih, bersih dengan postur badan yang cukup indah.
Sejenak aku menoleh ke bawah, tampak pahanya cukup menawan.
Sementara
itu onggokan kecil di selangkangan pahanya yang terbungkus CD menambah
panorama keindahan. Ia tidak menolak ketika aku membuka BH-nya, demikian
juga ketika aku melepaskan kimononya melewati kedua tangannya.
Kuteruskan
permainanku dengan mengitari sekitar bukit-bukit segar itu. Seluruh
titik di bagian atasnya telah kutelusuri tidak ada yang terlewatkan,
kini kedua bukti itu kuremas perlahan. Ia mendesah, "Eeehhh.." Tatkala
kukulum puting susunya, badannya refleks bergerak-gerak, desahnya pun
semakin jelas terdengar.
Kuulangi
lagi cumbuanku dari mulai mengulum bibirnya, mencium pipinya, kemudian
lehernya. Kemudian kuciumi lagi bukit-bukit indah itu, dan kemudian
kupermainkan kedua puting susunya dengan lidahku.
Gelinjangnya
semakin terasa bergerak mengiringi desahannya yang terasa merdu sekali.
Petualanganku kuteruskan ke bagian bawahnya. Ia mencegah ketika aku
akan membuka CD-nya yang merupakan pakaian satu-satunya yang tersisa.
"Ya
nggak usah dibuka" ujarku, "Aku elus-elus aja ya bagian atasnya pakai
punyaku", bujukku. Ia tidak bereaksi, tapi aku langsung saja
menyingsingkan CD-nya ke bawah. Tampaklah dua bibir yang mengapit lembah
cintanya dihiasi bulu-bulu tipis.
Kupegang
burungku sambil duduk mengangkang di atas kedua pahanya, kemudian
kuelus-eluskan burung itu ke ujung lembah yang sebagian masih tertutup
CD. Agak lama dengan permainan itu, akhirnya mungkin karena ia juga
penasaran, maka ia tidak menolak ketika kulepaskan CD-nya.
Kini
kami sama-sama telanjang, tak satu helai benang pun yang tersisa.
Kuteruskan permainan burungku dengan lebih leluasa. Tak lama kemudian
cairan kenikmatannya pun sudah meleleh menyatakan kehadirannya.
Burungku
pun lebih lancar menjelajah. Tapi karena lembahnya masih perawan agak
susah juga untuk menembusnya. Ketika kucoba untuk memasukkan burungku ke
dalam lembah sorganya, tampak bibir-bibir kenikmatannya ikut terdorong
bersama kepala burungku.
Menyadari
alam yang dilaluinya belum pernah dijamah, aku cukup sabar untuk
melakukan permainan sampai lembah kenikmatannya betul-betul menerimanya
secara alami. Gelinjang, desahan, dan ekspresi wajahnya yang sedang
menahan kenikmatan membuatku semakin bersemangat dan lebih percaya diri
untuk tidak segera ejakulasi.
Ia
sudah tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Akhirnya kepala burungku
berhasil menembus lubang kenikmatan itu. Kuteruskan permainanku dengan
mengeluarkan dan memasukkan lagi kepala burungku.
Ia
merintih kenikmatan, ia pasrah saja dengan keadaan yang terjadi, karena
itu aku yakin bahwa rintihan itu bukan rintihan kesakitan, kalaupun
ada, maka akan kalah dengan kenikmatan yang diperolehnya.
Selanjutnya
kulihat burung yang beruntung itu lebih mendesak ke dalam. Aku sudah
tidak tahan untuk memasukkan seluruh burungku ke tempatnya yang
terindah. Kemudian kurebahkan badanku di atas tubuhnya yang indah,
kuciumi pipinya sambil pantatku kugerakkan naik turun.
Sementara
burungku lebih jauh menjangkau ke dalam lembah nikmatnya. Akhirnya
seluruh berat badanku kuhempaskan ke tubuh mungil itu. Dan..,
"Blesss...." seluruh burungku masuk ke dalam surga dunia yang indah.
Ia
mengerang, gerakan burungku pun segera kuhentikan sampai liang
kewanitaannya menyesuaikan dengan situasi yang baru. Setelah agak lama
aku pun mulai lagi memainkan gerakan-gerakanku dengan gentle.
Kini
ia mulai mengikuti iramaku dengan menggerak-gerakkan pinggulnya. Selang
berapa lama kedua tangannya lekat mencengkram punggungku, kakinya ikut
menjepit kedua kakiku. Kemudian muncul erangan panjang diikuti
denyut-denyut dari lembah sorganya. "Eeehhh..." desahnya.
Aku
pun sudah tidak tahan lagi untuk menumpahkan seluruh kenikmatan, segera
kucabut burungku kemudian kumuntahkan di luar dengan menekan ke
selangkangannya. "Eeehhh..." erangku juga. Kami berdua menarik nafas
panjang.
Setelah
agak lama kemudian aku duduk, kuraih kaos dalamku kemudian aku mengelap
selangkangnya yang penuh dengan air kenikmatanku. Tampak tempat
tidurnya basah oleh cairan-cairan bercampur bercak-bercak merah.
Ia
pun segera duduk, sejenak dari raut wajahnya tampak keraguan terhadap
situasi yang telah dialaminya. Aku dan cintaku memberi keyakinan untuk
tidak menyesali apa yang pernah terjadi.
Besok
paginya aku sempat bermain lagi dengannya sebelum check out.
Betul-betul suatu akhir pekan yang susah dilupakan. Akhirnya ia
kutitipkan bekerja di perusahaan temanku.
Tamat