Cerita Bokep Nikmatnya Kawin Dengan Penis Bengkok
– Kisah Sex Bugil ini terjadi saat kau masih duduk disebuah SMA swasta,
bentuk bodyku yang langsing padat semua kebanyakan pria yang ada
disekolah selalu memandangiku dengan nafsu, kulitku yang putih bibir
tipis yang sensual antara pay dara dan pantat ku berukuran lumayan, oya
lupa untuk memperkenalkan , perkenalkan namaku Etti.
Cerita Bokep
Nikmatnya Kawin Dengan Penis Bengkok Pak Fredyy Cerita Dewasa Nikmatnya
Kawin Dengan Penis Bengkok Pak Fredyy Cerita Dewasa Nikmatnya Kawin
Dengan Penis Bengkok Pak Fredyy Foto Bugil Saori Hara 211
Cerita
Dewasa Nikmatnya Kawin Dengan Penis Bengkok Pak Fredyy – Dalam bergaul
aku cukup ramah sehingga tidak mengherankan bila di sekolah aku
mempunyai banyak teman baik anak-anak kelas II sendiri atau kelas I, aku
sendiri waktu itu masih kelas II. Laki-laki dan perempuan semua senang
bergaul denganku. Di kelaspun aku termasuk salah satu murid yang
mempunyai kepandaian cukup baik, ranking 6 dari 10 murid terbaik saat
kenaikan dari kelas I ke kelas II.
Karena
kepandaianku bergaul dan pandai berteman tidak jarang pula para guru
senang padaku dalam arti kata bisa diajak berdiskusi soal pelajaran dan
pengetahuan umum yang lain. Salah satu guru yang aku sukai adalah bapak
guru bahasa Inggris, orangnya ganteng dengan bekas cukuran brewok yang
aduhai di sekeliling wajahnya
Cukup
tinggi (agak lebih tinggi sedikit dari pada aku) dan ramping tetapi
cukup kekar. Dia memang masih bujangan dan yang aku dengar-dengar
usianya baru 27 tahun, termasuk masih bujangan yang sangat ting-ting
untuk ukuran zaman sekarang.
Suatu
hari setelah selesai pelajaran olah raga (volley ball merupakan
favoritku) aku duduk-duduk istirahat di kantin bersama teman-temanku
yang lain, termasuk cowok-cowoknya, sembari minum es sirup dan makan
makanan kecil.
Kita
yang cewek-cewek masih menggunakan pakaian olah raga yaitu baju kaos
dan celana pendek. Memang di situ cewek-ceweknya terlihat seksi karena
kelihatan pahanya termasuk pahaku yang cukup indah dan putih.
Tiba-tiba
muncul bapak guru bahasa Inggris tersebut, sebut saja namanya Freddy
(bukan sebenarnya) dan kita semua bilang, “Selamat pagi Paa..aak”, dan
dia membalas sembari tersenyum.
“Ya, pagi semua. Wah, kalian capek ya, habis main volley”.
Aku
menjawab, “Iya nih Pak, lagi kepanasan. Selesai ngajar, ya Pak”. “Iya,
nanti jam setengah dua belas saya ngajar lagi, sekarang mau ngaso dulu”.
Aku dan teman-teman mengajak, “Di sini aja Pak, kita ngobrol-ngobrol”, dia setuju.
“OK, boleh-boleh aja kalau kalian tidak keberatan”!
Aku
dan teman-teman bilang, “Tidak, Pak.”, lalu aku menimpali lagi,
“Sekali-sekali, donk, Pak kita dijajanin”, lalu teman-teman yang lain,
“Naa..aa, betuu..uul. Setujuu..”.
Ketika
Pak Freddy mengambil posisi untuk duduk langsung aku mendekat karena
memang aku senang akan kegantengannya dan kontan teman-teman ngatain
aku.
“Alaa.., Etty, langsung deh, deket-deket, jangan mau Pak”.
Pak Freddy menjawab, “Ah! Ya, ndak apa-apa”.
Kemudian
sengaja aku menggoda sedikit pandangannya dengan menaikkan salah satu
kakiku seolah akan membetulkan sepatu olah ragaku dan karena masih
menggunakan celana pendek, jelas terlihat keindahan pahaku. Tampak Pak
Freddy tersenyum dan aku berpura-pura minta maaf.
“Sorry, ya Pak”.
Dia menjawab, “That’s OK”. Di dalam hati aku tertawa karena sudah bisa mempengaruhi pandangan Pak Freddy.
Di
suatu hari Minggu aku berniat pergi ke rumah Pak Freddy dan pamit
kepada Mama dan Papa untuk main ke rumah teman dan pulang agak sore
dengan alasan mau mengerjakan PR bersama-sama. Secara kebetulan pula
Mama dan papaku mengizinkan begitu saja. Hari ini memang hari yang
paling bersejarah dalam hidupku. Ketika tiba di rumah Pak Freddy, dia
baru selesai mandi dan kaget melihat kedatanganku.
“Eeeh, kamu Et. Tumben, ada apa, kok datang sendirian?”.
Aku menjawab, “Ah, nggak iseng aja. Sekedar mau tahu aja rumah bapak”.
Lalu dia mengajak masuk ke dalam, “Ooo, begitu. Ayolah masuk. Maaf rumah saya kecil begini. Tunggu, ya, saya paké baju dulu”.
Memang
tampak Pak Freddy hanya mengenakan handuk saja. Tak lama kemudian dia
keluar dan bertanya sekali lagi tentang keperluanku. Aku sekedar
menjelaskan, “Cuma mau tanya pelajaran, Pak. Kok sepi banget Pak,
rumahnya”.
Dia tersenyum, “Saya kost di sini. Sendirian.”
Selanjutnya kita berdua diskusi soal bahasa Inggris sampai tiba waktu makan siang dan Pak Freddy tanya, “Udah laper, Et?”.
Aku jawab, “Lumayan, Pak”.
Lalu
dia berdiri dari duduknya, “Kamu tunggu sebentar ya, di rumah. Saya mau
ke warung di ujung jalan situ. Mau beli nasi goreng. Kamu mau kan?”.
Langsung kujawab, “Ok-ok aja, Pak.”.
Sewaktu
Pak Freddy pergi, aku di rumahnya sendirian dan aku jalan-jalan sampai
ke ruang makan dan dapurnya. Karena bujangan, dapurnya hanya terisi
seadanya saja. Tetapi tanpa disengaja aku melihat kamar Pak Freddy
pintunya terbuka dan aku masuk saja ke dalam.
Kulihat
koleksi bacaan berbahasa Inggris di rak dan meja tulisnya, dari mulai
majalah sampai buku, hampir semuanya dari luar negeri dan ternyata ada
majalah porno dari luar negeri dan langsung kubuka-buka.
Aduh!
Gambar-gambarnya bukan main. Cowok dan cewek yang sedang bersetubuh
dengan berbagai posisi dan entah kenapa yang paling menarik bagiku
adalah gambar di mana cowok dengan asyiknya menjilati vagina cewek dan
cewek sedang mengisap penis cowok yang besar, panjang dan kekar.
Tidak disangka-sangka suara Pak Freddy tiba-tiba terdengar di
belakangku, “Lho!! Ngapain di situ, Et. Ayo kita makan, nanti keburu
dingin nasinya”.
Astaga!
Betapa kagetnya aku sembari menoleh ke arahnya tetapi tampak wajahnya
biasa-biasa saja. Majalah segera kulemparkan ke atas tempat tidurnya dan
aku segera keluar dengan berkata tergagap-gagap, “Ti..ti..tidak, eh,
eng..ggak ngapa-ngapain, kok, Pak. Maa..aa..aaf, ya, Pak”.
Pak
Freddy hanya tersenyum saja, “Ya. Udah tidak apa-apa. Kamar saya
berantakan. tidak baik untuk dilihat-lihat. Kita makan aja, yuk”.
Syukurlah Pak Freddy tidak marah dan membentak, hatiku serasa tenang kembali tetapi rasa malu belum bisa hilang dengan segera.
Pada saat makan aku bertanya, “Koleksi bacaannya banyak banget Pak. Emang sempat dibaca semua, ya Pak?”.
Dia menjawab sambil memasukan sesendok penuh nasi goreng ke mulutnya, “Yaa..aah, belum semua. Lumayan buat iseng-iseng”.
Lalu aku memancing, “Kok, tadi ada yang begituan”.
Dia bertanya lagi, “Yang begituan yang mana”.
Aku bertanya dengan agak malu dan tersenyum, “Emm.., Ya, yang begituan, tuh. Emm.., Majalah jorok”.
Kemudian dia tertawa, “Oh, yang itu, toh. Itu dulu oleh-oleh dari teman saya waktu dia ke Eropa”.
Selesai makan kita ke ruang depan lagi dan kebetulan sekali Pak Freddy menawarkan aku untuk melihat-lihat koleksi bacaannya.
Lalu dia menawarkan diri, “Kalau kamu serius, kita ke kamar, yuk”.
Akupun langsung beranjak ke sana. Aku segera ke kamarnya dan kuambil lagi majalah porno yang tergeletak di atas tempat tidurnya.
Begitu tiba di dalam kamar, Pak Freddy bertanya lagi, “Betul kamu tidak malu?”, aku hanya menggelengkan kepala saja.
Mulai
saat itu juga Pak Freddy dengan santai membuka celana jeans-nya dan
terlihat olehku sesuatu yang besar di dalamnya, kemudian dia menindihkan
dadanya dan terus semakin kuat sehingga menyentuh vaginaku. Aku ingin
merintih tetapi kutahan.
Pak
Freddy bertanya lagi, “Sakit, Et”. Aku hanya menggeleng, entah kenapa
sejak itu aku mulai pasrah dan mulutkupun terkunci sama sekali.
Semakin
lama jilatan Pak Freddy semakin berani dan menggila. Rupanya dia sudah
betul-betul terbius nafsu dan tidak ingat lagi akan kehormatannya
sebagai Seorang Guru. Aku hanya bisa mendesah”, aa.., aahh, Hemm..,
uu.., uuh”.
Akhirnya aku lemas dan kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Pak Freddy pun naik dan bertanya.
“Enak, Et?”
“Lumayan, Pak”.
Tanpa
bertanya lagi langsung Pak Freddy mencium mulutku dengan ganasnya,
begitupun aku melayaninya dengan nafsu sembari salah satu tanganku
mengelus-elus penis yang perkasa itu. Terasa keras sekali dan rupanya
sudah berdiri sempurna.
Mulutnya
mulai mengulum kedua puting payudaraku. Praktis kami berdua sudah tidak
berbicara lagi, semuanya sudah mutlak terbius nafsu birahi yang buta.
Pak Freddy berhenti merangsangku dan mengambil majalah porno yang masih
tergeletak di atas tempat tidur dan bertanya kepadaku sembari salah satu
tangannya menunjuk gambar cowok memasukkan penisnya ke dalam vagina
seorang cewek yang tampak pasrah di bawahnya.
“Boleh saya seperti ini, Et?”.
Aku
tidak menjawab dan hanya mengedipkan kedua mataku perlahan. Mungkin Pak
Freddy menganggap aku setuju dan langsung dia mengangkangkan kedua
kakiku lebar-lebar dan duduk di hadapan vaginaku. Tangan kirinya
berusaha membuka belahan vaginaku yang rapat, sedangkan tangan kanannya
menggenggam penisnya dan mengarahkan ke vaginaku.
Kelihatan
Pak Freddy agak susah untuk memasukan penisnya ke dalam vaginaku yang
masih rapat, dan aku merasa agak kesakitan karena mungkin otot-otot
sekitar vaginaku masih kaku. Pak Freddy memperingatkan,
“Tahan
sakitnya, ya, Et”. Aku tidak menjawab karena menahan terus rasa sakit
dan, “Akhh.., bukan main perihnya ketika batang penis Pak Freddy sudah
mulai masuk, aku hanya meringis tetapi Pak Freddy tampaknya sudah tak
peduli lagi, ditekannya terus penisnya sampai masuk semua dan langsung
dia menidurkan tubuhnya di atas tubuhku. Kedua payudaraku agak tertekan
tetapi terasa nikmat dan cukup untuk mengimbangi rasa perih di vaginaku.
Semakin
lama rasa perih berubah ke rasa nikmat sejalan dengan gerakan penis Pak
Freddy mengocok vaginaku. Aku terengah-engah, “Hah, hah, hah,..”.
Pelukan kedua tangan Pak Freddy semakin erat ke tubuhku dan spontan pula
kedua tanganku memeluk dirinya dan mengelus-elus punggungnya. Semakin
lama gerakan penis Pak Freddy semakin memberi rasa nikmat dan terasa di
dalam vaginaku menggeliat-geliat dan berputar-putar.
Sekarang
rintihanku adalah rintihan kenikmatan. Pak Freddy kemudian agak
mengangkatkan badannya dan tanganku ditelentangkan oleh kedua tangannya
dan telapaknya mendekap kedua telapak tanganku dan menekan dengan keras
ke atas kasur dan ouwww.., Pak Freddy semakin memperkuat dan mempercepat
kocokan penisnya dan di wajahnya kulihat raut yang gemas.
Semakin
kuat dan terus semakin kuat sehingga tubuhku bergerinjal dan kepalaku
menggeleng ke sana ke mari dan akhirnya Pak Freddy agak merintih
bersamaan dengan rasa cairan hangat di dalam vaginaku. Rupanya air
maninya sudah keluar dan segera dia mengeluarkan penisnya dan merebahkan
tubuhnya di sebelahku dan tampak dia masih terengah-engah.
Setelah semuanya tenang dia bertanya padaku, “Gimana, Et? Kamu tidak apa-apa? Maaf, ya”.
Sembari tersenyum aku menjawab dengan lirih, “tidak apa-apa. Agak sakit Pak. Saya baru pertama ini”.
Dia berkata lagi, “Sama, saya juga”.
Kemudian aku agak tersenyum dan tertidur karena memang aku lelah, tetapi aku tidak tahu apakah Pak Freddy juga tertidur.
Sekitar
pukul 17:00 aku dibangunkan oleh Pak Freddy dan rupanya sewaktu aku
tidur dia menutupi sekujur tubuhku dengan selimut. Tampak olehku Pak
Freddy hanya menggunakan handuk dan berkata, “Kita mandi, yuk. Kamu
harus pulang kan?”.
Badanku
masih agak lemas ketika bangun dan dengan tetap dalam keadaan telanjang
bulat aku masuk ke kamar mandi. Kemudian Pak Freddy masuk membawakan
handuk khusus untukku. Di situlah kami berdua saling bergantian
membersihkan tubuh dan akupun tak canggung lagi ketika Pak Freddy
menyabuni vaginaku yang memang di sekitarnya ada sedikit bercak-bercak
darah yang mungkin luka dari selaput daraku yang robek. Begitu juga aku,
tidak merasa jijik lagi memegang-megang dan membersihkan penisnya yang
perkasa itu.
Setelah
semua selesai, Pak Freddy membuatkan aku teh manis panas secangkir.
Terasa nikmat sekali dan terasa tubuhku menjadi segar kembali. Sekitar
jam 17:45 aku pamit untuk pulang dan Pak Freddy memberi ciuman yang
cukup mesra di bibirku.
Ketika
aku mengemudikan mobilku, terbayang bagaimana keadaan Papa dan Mama dan
nama baik sekolah bila kejadian yang menurutku paling bersejarah tadi
ketahuan. Tetapi aku cuek saja, kuanggap ini sebagai pengalaman saja.
Semenjak
itulah, bila ada waktu luang aku bertandang ke rumah Pak Freddy untuk
menikmati keperkasaannya dan aku bersyukur pula bahwa rahasia tersebut
tak pernah sampai bocor. Sampai sekarangpun aku masih tetap menikmati
genjotan Pak Freddy walaupun aku sudah menjadi mahasiswa, dan
seolah-olah kami berdua sudah pacaran.
Pernah
Pak Freddy menawarkan padaku untuk mengawiniku bila aku sudah selesai
kuliah nanti, tetapi aku belum pernah menjawab. Yang penting bagiku
sekarang adalah menikmati dulu keganasan dan keperkasaan penis guru
bahasa Inggrisku itu. Baca juga cerita sex paling.
Tamat