Cerita Bokep Anak Muda Ngentot Cewek
- Umurku baru 21 tahun, masih muda kali ya, laki-laki, dan sekarang
masih kuliah. Aku mau cerita jorok sedikit tentang pengalamanku sama
cewekku. Kata orang, aku tuh orangnya menarik, walaupun aku sendiri
nggak merasa, dan yang bilang begitu nggak satu dua orang, tapi banyak
dari teman-temanku. Bahkan ibuku sendiri juga bilang begitu, dan ibuku
pernah bilang, “Pantas kamu disenengin banyak cewek.” Ibuku tahu aku
disenangi perempuan gara-gara setiap hari banyak saja yang menanyakanku
via telepon.

Kisah
seks ini terjadi dengan cewekku yang masa pacarannya paling lama (kira
kira 3 tahunan). Kami pacaran dari kelas dua SMA. Dia sekelas sama aku
di jurusan yang sama, fisika. Kami pacaran masih dalam batas-batas
normal saja. Paling kissing sampai necking-lah maksimalnya. Nggak sampai
petting apalagi senggama. Pasalnya aku sangat menghargai dia. Soalnya
dia tuh kayaknya alim-alim begitu orangnya. Sudah begitu dia orangnya
baik lagi. Kalau aku macam-macam, pasti diingatkan sama dia kalau aku
lagi bikin salah. Hubungan yang begini bikin aku sama dia itu dekat
sekali dan jadi seperti nggak terpisahkan. Jadinya pacaran aku sama dia
jadi langgeng begitu. Setamat SMA, tahun 1995, aku ikut UMPTN dan dia
juga. Syukur aku keterima di PTN, sudah gitu PTN-nya top lagi. Kalau
nggak keterima, sudah, aku nggak bakalan bisa kuliah lagi. Orangtuaku
pasti nggak kuat membiayaiku kuliah di universitas swasta. Kalau di
negeri, masih kuatlah aku rasa.
Tapi
cewekku nih nggak diterima (pilihan universitasnya sama-sama yang aku
pilih). Tapi dia itu keterima PMDK masuk universitas tanpa test di salah
satu universitas di kotaku. Dianya nih, nggak mau masuk ke universitas
itu, tapi dia malah mengambil D3 di univ tempat aku kuliah. Aku tanya
kenapa, jawabnya dia nggak mau kepisah sama aku. Takut aku kesambar
orang katanya. Akhirnya kami tinggal di kota yang sama, dimana kami
nggak punya saudara di kota ini. jadinya kita di kota ini sama-sama dari
bulan Agustus tahun itu 1995.
Aku
yang selain UMPTN ini juga melamar ke beberapa yayasan yang katanya mau
mengasih bea-siswa ke luar negeri. Buntutnya aku keterima di beberapa
beasiswa (lagi untung kali aku, banyak yang mau menerima aku). Ada yang
mau mengirimku ke Jepang, US, Europe (Belanda sama Inggris) dan
Melbourne-Australia. Aku putuskan ngambil ke US saja, di tempatku kuliah
sekarang ini. Cewekku pas dengar berita ini jadi senang campur sedih.
Dia senang karena aku dapat bea-siswa, sedih karena pisah lagi sama dia
(padahal dia sudah bela-belain ikut aku ke kota lain). Katanya lagi dia
takut kehilangan aku, begitu.
Cerita Bokep.
Gara-gara itu, menjelang keberangkatanku selama kurang lebih empat
bulan, kita selalu sama-sama dan kita itu jadi tambah lengket saja.
Kemana-mana kita sama-sama. Kalau malam minggu saja, pasti bareng. Nah,
kejadian yang aku anggap tidak pada tempatnya itu terjadi pada salah
satu malam minggu. Malam minggu itu, kita lagi malas pergi pergi
ceritanya. Sudah jam setengah delapan, ibu kost-nya mau pergi ke tempat
saudaranya ibu kost itu. Sesudah itu yang di rumah, cuma ada dua orang
teman kost-annya saja yang lain dari kita. Malas juga, kita jalan-jalan
keluar sambil cari makanan.
Sekitar
jam sembilan lewat, kita balik. Ternyata nggak ada orang lagi di rumah.
Rumah kost-annya kosong. Nggak tahu, teman-teman kost-annya yang lain
pada kemana. Bosan juga kali di rumah lama-lama. Aku antarkan dia sampai
ke kamarnya, habis itu aku bilang kalau aku mau pulang dulu. Dia
bilang, aku jangan pulang dulu, takut katanya. Aku sih nggak apa-apa
saja pulang telat. Nah, aku temani saja dia. Kita ngobrol saja sampai
kurang lebih setengah jam. Aku lihat dia agak mengantuk. Aku suruh tidur
saja. Aku bilang, aku tungguin deh, sampai ada yang pulang. Dia-nya
setuju. Aku tunggui dia sambil baca-baca di meja belajarnya. Selang
beberapa menit, Dia manggilku, “Fer, sini bentar dong!” Oya, namaku
Ferry dan dia Tessa. “Ada apa?” tanyaku tanpa menoleh. “Sini dong!” dia
mulai merajuk. Baru aku menoleh, “Kenapa?” tanyaku. “Cium aku dong,
sebelum aku tidur!” pintanya. Aku bergerak mendekat, kucium keningnya
yang kata orang tanda sayang itu, lalu kucium bibirnya. Aku cium dia
sambil duduk di pinggir ranjangnya yang lebarnya kurang lebih satu
setengah meter itu. Dia membalas ciuman bibirku dengan sangat agresif,
nggak cuma gitu, aku ditarik ke ranjangnya.
Aku
pikir, “Setan apa yang lagi lewat di kepala cewekku ini, kok bisa ganas
gini?” Sekarang posisiku sudah telentang ditindih badannya. Tindakannya
nggak berhenti sampai di situ. Sekarang giliran kancing dan zip
celanaku yang dibuka, dan tangannya sudah memegang barangku saja. Aku
terkejut, karena sebelumnya kita belum pernah sampai ke tingkat segitu.
Aku langsung lepaskan bibirku dan bertanya, “Ngapain kamu Ca?” Eca
adalah panggilanku buat dia. “Nggak apa-apa kan Fer!” responnya. “Sekali
saja, emang nggak boleh aku main sama kamu? kamu kan pacarku!”
lanjutnya. Aku tambah terkejut lagi, “Eh, kamu sadar nggak, lagi ngomong
apa?” tanyaku. “Aku sadar kok!” jawabnya. “Lalu..?” tanyaku. “Nggak
apa-apa kan?” lanjutnya lagi. Aku tetap nggak kepingin, jadinya aku
jawab, “Nanti saja lah! kan ada waktunya!” Dia menyerah dan akhirnya
melepaskan aku. Lalu duduk di sisi lain ranjangnya sambil menghadap ke
dinding kamarnya. Aku langsung membenari celanaku. Lalu aku dekati dia.
Aku lihat air matanya mengalir. Aku langsung bingung. Terus terang,
sebagai cowok kelemahanku disana. Aku nggak tahan melihat wanita
menangis.
Kupeluk
dia dan aku tanya, “Kenapa?” Dia lantas berbicara panjang lebar. Kurang
lebih bicaranya begini, “Fer, kamu tau nggak, kalau aku tuh sayang
banget sama kamu. Aku nggak pengen kehilangan kamu. Aku pengen kamu
benar-benar jadi milikku. Aku tahu kalau buat kamu tuh nyari cewek tuh
gampang banget. Aku tau kalau kamu mau, siapa saja mau jadi cewek kamu.
Satu SMA, di SMA kita dulu, pada seneng sama kamu semua, dan aku yang
dapat kamu. Makanya aku seneng benget. Soalnya sainganku dulu tuh dari
yang terkaya, yang aku lihat dengan modal BMW-nya ngegaet kamu (emang
pernah tejadi), sampai ke yang terpintar pun juga seneng sama kamu
(juara umum sekolahku). Aku kan seneng benget dapat kamu, sampai aku
berjanji kalau perawanku tuh cuma buat kamu doang, kamu nggak ngerti!
aku tuh takut kalau kamu nanti sudah cabut ke US, kamu bakal lupa sama
aku dan keinginanku jadi nggak kesampaian. kamu ngerti aku nggak sih
Fer?” Tangisnya tambah keras saja.
Aku
nggak tahan melihat dia menangis gitu, aku-nya jadi nggak bisa
berpikir, akhirnya aku putuskan untuk menerima permintaannya. Aku jawab,
“OK lah kalau kamu maunya begitu!” Dia agak tenang, lalu dia mencium
bibirku lembut banget. Aku tanggapin. Kami berciuman saja beberapa
menit, lalu pakaianku mulai dilucutinya, dan pakaiannya dilucutinya
sendiri. Sekarang kami tinggal berpakaian dalam saja, dan Tessa sekarang
sudah nggak pakai bra lagi, karena memang dia kalau tidur nggak pernah
pakai bra kayaknya. Aku pikir nggak apa-apa lah, ini kesempatan buat
praktek kali nih. Aku juga mulai bereaksi. Tanganku mulai mempermainkan
payudaranya dan ciumanku mulai turun jadi necking. Setelah itu, mulutku
malah mempermainkan pentil payudaranya yang masih rada-rada kecil. Asyik
juga sih.
Kayaknya
dia menikmati banget, itu aku ambil kesimpulan dari dasahannya yang
kayaknya gimana gitu, nggak bisa aku deskripsikan deh. Tanganku sekarang
meloroti CD-nya, lalu aku mainkan vaginanya. Lalu tangannya juga
meloroti CD-ku sambil memainkan barangku. Nggak lama kemudian vagina
cewekku mulai basah. Dia-nya mulai ribut menyuruhku masukan punyaku.
“Fer, masukin sekarang dong!” katanya. Aku ikuti saja. Aku coba
memasukan penisku ke Vaginanya. Rada-rada sulit juga, padahal barangku
nggak besar-besar amat, cuma kurang lebih 15 cm saja. Mungkin karena dia
masih perawan kali ya. Setelah berusaha, dan dibantu dia juga, barangku
masuk. Blesh.. dia agak menjerit, lalu meringis kesakitan. Aku kira ada
apa, kutahan gerakanku, padahal barangku baru masuk setengahnya. Aku
bertanya,
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa, terus saja!” katanya. Aku tanya,
“Sakit?”
“Ya!” jawabnya.
“Mau diterusin nggak?” tanya aku, soalnya aku kasihan melihat tampangnya.
“OK lah!” kataku.
Gerakanku
aku lanjutkan. Barangku masuk habis, aku tarik, dan aku masukan lagi,
dan terus kukocok-kocokan kayak di BF itu. Kurang lebih lima menit, Si
Tessa menjerit lagi sambil meregang-regang. Aku pikir, “Dia ini lagi
ngapain nih?” kupikir kayaknya kalau di film BF kayak begitu itu
tandanya lagi orgasme. Gerakanku aku hentikan. Aku biarkan dia orgasme
sementara barangku masih di dalam. Barangku yang kayak dipijit-pijit
gitu jadi nggak tahan juga kepingin keluar. Nggak sampai semenit setelah
cewekku selesai orgasme, aku juga merasa mau orgasme. Cepat-cepat aku
cabut barangku, aku orgasme di luar. Aku nggak mau ada hal apa-apa
setelah kejadian ini. Setelah itu aku berbaring saja langsung
disebelahnya. Baru aku berbaring, Cewekku bangun lagi, dan langsung
memainkan barangku. “Sekali lagi ya Fer!” katanya. Aku senyum saja. Aku
ladeni lagi dia. Pas ronde kedua ini, aku nggak banyak beraksi, sekalian
posisiku yang di bawah. Setelah barangku cukup tegang, cewekku langsung
saja memasukan lagi. Dia yang beraksi di atas pinggangku. Tanganku juga
terus memainkan payudaranya. Untuk ronde kedua ini, aku mampu bertahan
beberapa belas menit, dan cewekku orgasme sampai dua kali. Jam setengah
sebelas kurang, kami selesai. Kita bersih-bersih, mandi, ganti spreinya.
Dan kurang lebih jam sebelas, temannya pulang, lalu aku balik ke
kost-anku.
Sekarang
dia sudah nggak jadi cewekku lagi. Dia nggak tahan karena aku jarang
sekali mengirim surat ke dia. Aku sibuk banget dengan kegiatanku. Aku
kepingin juga sih menelepon dia, tapi nggak kuat biayanya. Disini (US)
aku tinggal di asrama kampus yang banyaknya Asian students, karena
asrama itu memang khusus buat foreign students. Banyak yang bisa aku
jadikan cewekku, terutama yang dari dekat-dekat Indonesia seperti
Malaysia, Singapore, dan Philipines. Banyak yang cakep tuh. Aku sudah
pernah ditembak cewek Asia, cuma aku bilang saja aku nggak mau. Aku
sudah takut saja kejadian kayak dulu terulang lagi. Soalnya aku takut
nanti putus lagi. Aku putus sama Tessa saja aku sudah merasa bersalah,
karena aku merasa aku sudah mengambil sesuatu yang sangat berharga dari
dia. Itu jadi pengalaman pertama dan terakhirku. Tapi rasa bersalahku
yang sudah mengambil perawan cewekku, sama melakukan yang dilarang
agamaku, nggak hilang-hilang sampai sekarang.
Tamat